Sulut Waspada ISIS dari Filipina, Warga Beraktivitas Normal

Menko Polhukam Wiranto melaksanakan buka puasa di kantor DPP Nasdem di Gondangdia, Jakarta Pusat, Minggu (28/5/2017).
Sumber :
  • Reza Fajri

VIVA.co.id - Kondisi masyarakat Sulawesi Utara saat ini tengah waspada akibat terjadinya konflik bersenjata di Marawi, Filipina selatan. Konflik terjadi antara militer Filipina dan kelompok radikal Maute yang memiliki keterkaitan dengan gerakan teror ISIS.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, sikap waspada diambil mengingat Sulut adalah wilayah Indonesia yang terdekat dengan Marawi. Gempuran yang dilakukan militer Filipina terhadap Maute sejak kelompok itu menduduki Marawi pada 23 Mei 2017 menimbulkan kekhawatiran kelompok menyebar ke daerah-daerah di sekitar Marawi, termasuk Sulut.

"Biasanya kalau satu tempat digempur, itu luapannya kan menyebar ke daerah lain. Nah, kita (Indonesia) kan cukup dekat ini. Kalau jarak darat itu 300 kilometer. Itu cukup dekat,” ujar Wiranto di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Jumat, 16 Juni 2017.

Oleh karena itu, dia melanjutkan, kewaspadaan harus ditingkatkan. “Rupa-rupanya memang para pemerintah daerah, kapolda, pangdam, dan tokoh-tokoh masyarakat sudah alert masalah itu. Sudah mewaspadai," tuturnya.

Wiranto melakukan kunjungan ke Manado, Sulut, guna berkoordinasi dengan unsur pemerintah di wilayah itu pada Rabu dan Kamis, 14 dan 15 Juni 2017.

Wiranto menyampaikan, kewaspadaan terlihat dari dibentuknya posko-posko bersama oleh pemerintah daerah, sehingga masyarakat bisa segera melakukan pelaporan, apabila menemukan indikasi keberadaan orang yang mencurigakan di daerahnya.

Selain itu, menurut Wiranto, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menambah pasukan di pulau-pulau terluar Indonesia yang berada di dekat Filipina. Wiranto juga mengatakan, TNI Angkatan Laut (AL) mengintensifkan patroli maritim di wilayah perbatasan laut Indonesia dan Filipina.

"Kami sudah melakukan langkah-langkah (kewaspadaan) yang luar biasa," ujar Wiranto.

Meski demikian, Wiranto membantah pemerintah menerapkan status siaga atas potensi kedatangan ISIS di Sulut. Status siaga mengesankan kondisi darurat yang dikhawatirkan malah membuat masyarakat beraktivitas diiringi rasa takut.

Mantan panglima ABRI itu menekankan bahwa kondisi saat ini masih berada dalam taraf waspada mengingat kehadiran ISIS di Sulut juga belum ada. "Tidak ada kekhawatiran. Yang khawatir itu kita. Mereka (masyarakat Sulut) biasa saja kehidupannya," ujar Wiranto.