Pengamat Sebut Calon Independen Mirip Taksi Online

Logo Uber.
Sumber :
  • Carscoops

VIVA.co.id - Ketua Lembaga Konstitusi dan Demokrasi (Kode) Inisiatif, Veri Junaidi, menganalogikan adanya calon independen dan calon dari partai politik sama seperti persoalan taksi konvensional dan online yang terjadi saat ini. Kok bisa?

"Jadi kayanya mirip-mirip. Di saat taksi konvensional ini nyaman dengan monopoli yang dilakukan kemudian muncul taksi yang berbasis aplikasi. Mereka yang sejak awal nyaman, penghasilan cukup baik karena penumpang tidak ada pilihan lain," kata Veri dalam diskusi ‘Calon Independen dan Revisi Undang-Undang Pilkada’ di Sekretariat Bersama Kodifikasi Undang-Undang (UU) Pemilu, Jakarta, Selasa, 22 Maret 2016.

Ia menuturkan bahwa dulu orang harus naik taksi biru atau putih. Saat ini ada pilihan lain yang lebih nyaman dan serasa seperti mobil pribadi. Begitu juga dengan calon independen. Calon independen sebenarnya bukan hal yang baru.

"Kenapa muncul gagasan calon perseorangan? Selain muncul kritik terhadap partai politik. Sekarang partai sudah mulai ada saingan. Kalau partai tak mau berbenah. Maka orang bisa masuk melalui jalur lain. Itu persoalan kompetisi saja," kata Veri.

Menurutnya, yang terpenting dalam proses pencalonan adalah bagaimana pemilih memiliki banyak alternatif untuk memilih calon kepala daerahnya. Soal apakah memilih calon dari partai atau calon independen, itu hanya masalah pilihan saja. "Kami anggap pemilih mesti diberikan lebih banyak ruang dan pilihan," kata Veri.

Jalan maju dalam pilkada melalui jalur independen atau perseorangan dipersoalkan sejumlah partai politik. Bahkan, DPR baru-baru ini berniat memperberat syaratnya. Ada juga elite politik yang menuding bahwa jalan tersebut merupaka deparpolisasi.