Kisruh Pemerintah - HTI Bisa Disusupi ISIS

Aksi tolak pembubaran HTI
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Pemerintah Indonesia resmi membubarkan organisasi kemasyarakatan (ormas) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pengamat Intelejen Fauka Nurfarid menilai, langkah yang diambil ini seakan menunjukkan kepanikan pemerintah akan paham radikalisme. Pemerintah tak berfikir panjang akan efek yang nanti akan terjadi di Indonesia.

Menurut Fauka, pemerintah salah langkah dalam mengambil tindakan pembubaran HTI. Pasalnya, dengan dibubarkannya ormas tersebut, malah akan membuat ormas tersebut memerangi Indonesia. "Ini hanya kepanikan pemerintah di jaman pemerintahan Presiden Jokowi," kata Fauka kepada VIVA.co.id, Kamis 20 Juli 2017.

Menurutnya, landasan pembubaran HTI itu sendiri, hanya mengacu dari aksi 212 lalu. Padahal, aksi yang dilakukan kala itu dinilainya belum mengkhawatirkan meski pemerintah menyebut bertentangan dengan norma-norma Pancasila.

"Kalau memang mau dibubarkan, kenapa tidak sejak dahulu saja. Ormas itu sendiri juga sudah berdiri sejak jaman Pak Harto, jadi saya nilai hanya kepanikan saja ini," ujar Fauka.

Atas kondisi itu, pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Satuan Khusus Badan Intelejen Strategis (BAIS) ini menganalisa, bahwa nantinya massa HTI akan melakukan perlawanan. Dari langkah yang dilakukan itu, bukan tidak mungkin ISIS nantinya akan memanfaatkan situasi tersebut.

"Saya menilai ISIS mendapatkan peluang dari massa HTI yang geram akan pembubaran tersebut," ujarnya.

Dengan geramnya massa pendukung yang diperkirakan mencapai 10 juta orang, kata Fauka, mereka akan dimanfaatkan oleh ISIS untuk merekrut anggota baru. Terlebih, saat ini kelompok pemberontak itu tengah berupaya menguasai Asia tenggara. "Paham yang dimiliki kelompok ISIS sendiri sama dengan apa yang disebut pemerintah terhadap HTI, jadi sangat mungkin ini bisa terjadi. Ini juga yang harusnya dilihat pemerintah sebelum melakukan pembubaran," ujarnya menjelaskan.

Atas kondisi itu, lanjut Fauka, pemerintah nantinya pasti akan berfikir panjang akan adanya perlawanan yang diberikan pendukung yang beringas. Terlebih, ormas HTI yang memiliki modal yang cukup kuat, bisa saja menguasai salah satu daerah di Indonesia untuk melakukan perlawanan. "Mereka (HTI) bisa saja menguasai wilayah Aceh, dan dengan dukungan ISIS bisa saja menyerang Indonesia," ujarnya. (mus)