Ketua KEIN Dorong Mahasiswa Jadi Enterpreneur

Ketua KEIN Soetrisno Bachir di kampus Universitas Airlangga Surabaya pada Selasa, 22 Mei 2018.
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

VIVA – Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional atau KEIN, Soetrisno Bachir, menyampaikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa di Aula Fadjar Notonegoro Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa, 22 Mei 2018. Ia mendorong mahasiswa agar menjadi pengusaha setelah lulus kelak.

Soetrisno mengapresiasi antusiasme mahasiswa Unair dalam mengikuti kuliah tentang ekonomi dan bisnis. Menurutnya, hal itu indikator ke depan bakal banyak pengusaha-pengusaha bermunculan di Indonesia. "Biasanya, peminat bicara bisnis sedikit, di sini lebih dari 500 mahasiswa," katanya. 

Dia menjelaskan, sebuah bangsa bisa mencapai kemajuan apabila memenuhi lima prasyarat, yakni nilai-nilai religiusitas atau spiritualitas; memiliki nilai-nilai entrepreneurship; memegang prinsip profesionalisme; menguasai teknologi; dan menguasai masalah-masalah dunia atau berwawasan global.

"Nah, sekarang kita bicara prasyarat yang kedua, entrepreneurship. Bagaimana untuk bisa jadi pengusaha? Kalau belajar jangan hanya teori. Kenapa? Kalau teori yang jadi fokus, nanti ujungnya ijazah. Setelah lulus hidup bergantung pada ijazah. Jadinya bisa dilihat, ada lowongan pekerjaan dibuka untuk 500 orang, yang daftar 5.000 orang," kata Soetrisno.

Menurut Soetrisno, untuk menjadi pengusaha seseorang harus langsung masuk ke dunia praktik sejak dini. Soetrisno lantas menceritakan jalan hidupnya berbisnis dan menjadi pengusaha. "Saya kuliah S1 12 tahun. Kenapa? Karena pindah-pindah sekolah, mengikuti kerjaan saya," katanya. 

Kewirausahaan atau entrepreneurship, kata Soetrisno, penting karena ia mampu menjadi lokomotif dari suatu pergerakan masyarakat. Seorang enterpreneur, kata dia, bisa dipastikan ia memiliki jiwa kepemimpinan atau leadership. Ia akan memengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk ikut berdaya dan mandiri. "Dia akan membawa gerbong-gerbong," ujarnya.

Kewirausahaan menjadi salah satu penggerak ekonomi dunia. Fakta ini harusnya menjadi peluang untuk Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Cuma sayangnya, berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik, jumlah wirausaha di negeri ini baru tiga persen dari total jumlah penduduk.

"Kita masih kalah dengan negara tetangga, seperti Malaysia yang (jumlah wirausahanya) lima persen, Singapura tujuh persen, dan Jepan 11 persen," kata Soetrisno. 

Ada beberapa sebab kenapa minat berwirausaha di Indonesia masih rendah. Di antaranya adalah pola pikir anak muda Indonesia yang konsumtif dan tidak produktif. "Padahal seharusnya, anak muda Indonesia harus berani keluar dari zona nyaman dan memulai usaha sendiri," katanya. (webtorial)