BI Ungkap Lima Langkah Atasi Dampak Ekonomi akibat COVID-19

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 mencapai 26,42 juta orang. Angka ini meningkat 1,63 juta orang dibandingkan September 2019 atau bertambah 1,28 juta orang dibandingkan Maret 2019.

Untuk itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan, ada lima langkah penting agar pemerintah bisa segera mengatasi pandemi COVID-19, serta dampaknya terhadap perekonomian khususnya dunia usaha dan sektor keuangan.

"Pertama, bahwa dalam konteks ini protokol COVID-19 itu harus betul-betul kita taati. Kenormalan baru itu bukan kembali kepada normal yang lama, tapi adalah gaya hidup baru dan pendekatan baru," kata Perry dalam telekonferensi, Jumat 17 Juli 2020.

Baca juga: Kisruh Parkir Dibayar Ojol atau Konsumen, Ini Jawaban Grab

Langkah kedua adalah penyerapan anggaran, sebagai salah satu aspek yang sangat penting di tengah terbatasnya aktivitas ekonomi. Karena itu, Perry menegaskan bahwa realisasi dan efektivitas penyerapan anggaran memang sangat diperlukan.

Ketiga, lanjut Perry, adalah mulai membuka sektor-sektor produktif, namun harus dengan dengan gaya hidup baru (new normal) dan tetap menerapkan protokol COVID-19 secara ketat.

"Apalagi Presiden Jokowi juga telah menggariskan bahwa sembilan sektor akan segera dibuka, termasuk sektor pariwisata," ujar Perry.

Keempat, adalah restrukturisasi kredit bagi dunia usaha oleh pihak perbankan. Perry mengaku memiliki data dan laporan sejak Maret-Juni 2020, di mana banyak bank yang sudah betul-betul bekerja keras demi melakukan restrukturisasi kredit tersebut.

"Kemudian bagaimana agar bank-bank itu juga harus siap untuk mulai mendanai kembali kredit-kredit yang baru setelah upaya restrukturisasi kredit itu," kata Perry.

Langkah terakhir, adalah digitalisasi sektor ekonomi, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), agar bisa semakin berkembang serta menjadi salah satu penopang bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Yakni soal bagaimana mendigitalkan UMKM kita, sehingga ini bisa menjadi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang minatnya juga sangat besar," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, pernah memprediksi bahwa angka kemiskinan akan bertambah sekitar 1,2 juta orang. Karena itu, sejumlah realisasi program bantuan sosial yang sudah ada akan semakin didorong, demi membantu meringankan masyarakat yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi COVID-19.

"Kita fokuskan bansos-bansos yang sekarang sudah ditambah dan diperpanjang. Jadi sekarang untuk PKH, tambahkan beras, tambah (insentif) UMKM, bansos produktif," kata Sri Mulyani. (art)