Peta Air Pertama di Bulan, India Berkontribusi

Ilustrasi Bulan
Sumber :
  • www.pixabay.com/PeterDargatz

VIVA.co.id – Untuk pertama kalinya, ilmuwan Universitas Brown, Amerika Serikat telah merampungkan peta distribusi air yang terjebak dalam tanah Bulan. Peta ini diyakini akan menjadi bekal yang berharga bagi misi eksplorasi Bulan di masa depan. 

Dikutip dari Space, Jumat 15 September 2017, peta air di Bulan itu diolah berdasarkan data temuan awal air dan molekul terkait air, hidroxyl dari wahana Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) milik NASA pada 2009. Molekul hidroxyl terdiri atas masing-masing satu atom hidrogen dan oksigen.

Kemudian, ilmuwan Universitas Brown mengalibrasikan dengan data terbaru pengamatan dari Moon Mineralogy Mapper NASA dan pengamatan kuantitas air yang ada di tanah Bulan dari wahana India, Chandrayaan 1. 

"Jejak air yang hadir hampir terdeteksi di semua permukaan Bulan, tak terbatas pada area kutub seperti laporan sebelumnya," ujar pemimpin studi, Shuai Li. 

Li menuturkan, jumlah air di tanah Bulan meningkat pada area yang makin dekat dengan kutub. Jumlah air tersebut tak menunjukkan perbedaan signifikan di antara komposisi medan yang berbeda.

Studi terbaru menunjukkan konsentrasi air dalam tanah Bulan mencapai rata-rata maksimum 500 sampai 750 bagian per juta di wilayah kutub. Konsentrasi air tersebut masih kalah dengan tingkat konsentrasi air di bukit pasir terkering di Bumi.

Meski konsentrasi airnya masih kalah dengan Bumi, hal itu lebih baik dibanding misalnya tak ada air di satelit Bumi tersebut. Paling tidak, menurut ilmuwan, adanya air dan pembuatan peta itu bisa mendukung koloni di Bulan dan misi ke Planet mars pada masa depan. 

Dengan adanya peta air tersebut, peneliti berpandangan, misi ke Bulan bisa mula memikirkan bagaimana mengolah air, apakah mengekstraknya, apakah layak diminum untuk astronaut atau sejauh mana potensinya dipakai untuk bahan bakar wahana antariksa. 

Penelitian tersebut masih menyisakan pertanyaan misterius. Data dari Moon Mineralogy Mapper yang mengukur cahaya yang terpantul dari permukaan Bulan menunjukkan pencarian air tak bisa dilakukan di area yang terus gelap secara permanen. Area ini termasuk bagian bawah kawah di Bulan. 

Selain itu, peneliti tak bisa menentukan dengan tepat seberapa dalam air tanah mengalir. 

"Kami hanya menyensor beberapa milimeter di lapisan tanah atas dan tak bisa mengatakan dengan pasti apa kandungan air di bagian bawahnya. Distribusi air dengan kedalaman bisa membuat perbedaan besar dalam hal berapa banyak air yang ada di sana,” ujar peneliti Universitas Brown, Ralph Milliken. (art)