Diet Media Sosial, Siapa Berani?

Ilustrasi media sosial
Sumber :
  • www.pixabay.com/geralt

VIVA – Pada era digital dan munculnya beragam hoax yang terus menerus, membuat sebagian orang memilih menyepi maupun membatasi diri atau diet media sosial. Sikap dan pandangan menyepi dari media sosial ini dinilai susah untuk era digital saat ini. 

Co-Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Aribowo Sasmito mengatakan, sudah menjadi naluri manusia sebagai mahluk sosial, akan terus mencari wadah bersosialisasi. Untuk itu, meski orang diet media sosial, tetap akan mencari wadah bersosialisasi. 

"Soal diet media sosial, orang cuma bakal beralih ke sarana lain. Sebelum media sosial dulu kan ada pos kamling, ada tukang sayur, ada warung kopi. Itu tempat kita dulu ngumpul dan ngegosip," jelas Ari kepada VIVA, Kamis 1 Februari 2018. 

Seiring dengan perkembangan dan tren teknologi, orang kini bersosialisasi dan berkumpul di sarana media sosial. Menurutnya, sangat sulit bagi manusia tanpa wadah bersosialiasi. Manusia, menurutnya, akan berusaha mencari wadah, meski bosan dengan wadah yang satu, tapi akan berusaha mencari wadah yang lain. 

"Kalau media sosial enggak ada, bakalan pindah ke sarana lain," kata pria yang menjabat Ketua Komite Fact Checker Mafindo tersebut.

Ari menuturkan, zaman terhubung dengan internet saat ini, sangat sulit bagi orang untuk tidak saling terkoneksi. Menurutnya diet media sosial butuh tantangan besar. 

"Zaman serba koneksi begini, susah buat enggak berbagi. Bahkan di negara tertutup seperti China, mereka punya media sosial lokal dan tertutup dari media luar. Saking tertutupnya, masih banyak orang Indonesia yang tahunya China hari gini bisanya niru doang, bikin produk jelek doang. Padahal China sudah bergerak dari imitator ke inovator," ujarnya.