Teori Baru, Pluto Terbuat dari Jutaan Komet

Pluto.
Sumber :
  • Instagram/@nasa

VIVA – Dari penelitian terbaru, Pluto diperkirakan terbuat dari beberapa komet. Peneliti berkesimpulan demikian setelah meneliti komposisi kimia yang ada di Pluto.

"Kami telah mengembangkan apa yang kami sebut model kimiakosmologis yang kami sebut 'The Giant Comet' dari pembentukan Pluto," jelas pakar geokimia Divisi Ilmu Pengetahuan dan Teknis Luar Angkasa Southwest Research Institute Amerika Serikat, Christopher Glein, seperti yang dilansir situs Science Alert, Jumat 25 Mei 2018. 

Pluto memiliki kemiripan dengan Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Penelitian dari Southwest Research Institute itu meyakini kemiripan ini bukan kebetulan semata. Khususnya mengenai es nitrogen yang ada di area Spunik Planitia pada permukaan Pluto. 

Selain itu Sabuk Kuiper yang letaknya berada di sebelah Pluto juga memiliki komposisi mirip dengan mantan planet ke-9 Tata Surya itu. Sabuk Kuiper berada pada wilayah yang paling tepi dari Tata Surya. 

Pluto terdiri dari nitrogen yang sebelumnya diperkirakan berasal dari komet yang mendarat di sana. Namun kemungkinan itu semakin kecil karena kandungan nitrogen Pluto mencapai 98 persen.

Nitrogen di Pluto mirip dengan metana di Titan atau air di Bumi. Nitrogen di Pluto bisa mengalir deras seperti gletser di Bumi karena kekentalannya yang rendah pada suhu permukaan Pluto. Kondisi nitrogen di Pluto itu membuatnya bisa mengikis batuan dasar dan mengubah bentuk lanskap Pluto

Mirip dengan Matahari

Selain melihat komposisi yang sama dengan komet, para peneliti mencari tahu salah satu faktor pembentuk Pluto yaitu es yang komposisinya mirip dengan Matahari. Mereka juga meneliti jumlah karbon monoksida pada atmosfer Pluto. 

"Penelitian kami menunjukkan susunan kimia Pluto terbuat dari komet yang dimodifikasi oleh cairan yang mungkin ada di bawah permukaan laut," ujar Glein. 

Para peneliti juga menyatakan kemungkinan pada model komet, hilangnya karbon monoksida ternyata berada di bawah permukaan Pluto. Mereka menyebutkan lebih muda menjelaskan hilangnya gas tersebut pada komet dibandingkan dengan model matahari. (ren)