Ketatnya Daya Saing Bikin Raksasa Teknologi Jepang Merger

Ilustrasi strategi bisnis di industri teknologi.
Sumber :
  • www.pixabay.com/fancycrave1

VIVA – Perusahaan konsultan global Ernst & Young melaporkan bahwa kesepakatan Belt and Road Initiative atau Jalur Sutera Modern membuat Asia menjadi tujuan merger dan akuisisi (M&A) luar negeri yang paling populer untuk perusahaan China di tahun lalu.

Mengutip situs Xinhua, perusahaan-perusahaan asal negeri Tirai Bambu ini membuat kesepakatan M&A senilai US$22,3 miliar di Asia tahun lalu. Angka ini naik 19,1 persen secara tahunan (yoy), atau menyumbang hampir 30 persen dari M&A secara global.

Berdasarkan nilai kesepakatan, kegiatan M&A didominasi oleh sektor teknologi, media dan telekomunikasi (TMT), konsumer, listrik dan utilitas. Aksi merger dan akuisisi ini juga diikuti oleh raksasa teknologi Jepang, Hitachi.

Mengutip situs Globenewswire, Senin, 2 Maret 2020, Hitachi Vantara, perusahaan subsidiari yang dimiliki Hitachi Limited, mengumumkan penggabungannya dengan Hitachi Consulting menjadi satu perusahaan. Tujuannya adalah menciptakan solusi infrastruktur dan solusi digital baru dengan daya saing tinggi.

Toshiaki Tokunaga, chief executive officer dan chairman of the board Hitachi Vantara, mengatakan bahwa merger ini akan mendorong pelanggan untuk mengembangkan strategi dan solusi digital dengan lebih praktis dan efisien.

"Merger ini bertujuan menghadirkan daya saing tinggi ke dalam domain digital yang paling utama, yakni pusat data (data center), operasional data (data operations), dan transformasi perusahaan digital (enterprise digital transformation)," kata dia.

Lebih jauh, Tokunaga menyebut aksi korporasi tersebut juga sebagai bentuk nyata dari praktik industri manufaktur holistik sebagai salah satu bagian dari praktik industri vertikal.

"Praktik manufaktur akan mengintegrasikan metodologi konsultasi untuk menjawab isu terkait kualitas, customization, kesinambungan, dan model bisnis baru melalui solusi berbasis data," tuturnya.

Di sisi lain, integrasi ini dinilai Tokunaga sebagai respons untuk menghadapi tantangan sekaligus menciptakan daya saing dari begitu banyaknya data yang dihasilkan oleh sumber daya manusia (SDM), proses, dan mesin.