Apple Makin Menutup Diri

Apple Store di New York, Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • BGR

VIVA – Apple dikenal sebagai perusahaan teknologi yang memberlakukan aturan ketat toko aplikasinya, App Store, di mana pengguna iOS tidak bisa melakukan pengunduhan aplikasi selain di toko berlogo buah apel yang digigit itu.

Pesan yang disampaikan ini adalah buntut dari kasus Apple dengan Epic Games, di mana Apple memberi label 'sideloading' atau berbahaya jika ada pemasangan aplikasi di luar App Store, mengutip dari situs ZDNet, Rabu, 14 Juli 2021.

Meskipun Apple telah memimpin dalam hal privasi, namun apa yang dilakukannya sedikit berlebihan. Praktik ini juga membuat dikotomi yang menantang bagi developer atau pengembang aplikasi seperti, 'apakah Anda menjanjikan keamanan atau kepastian sebagai pesan pemasaran utama aplikasi Anda'.

Apple, mengutip satu penelitian, mengaku bahwa perangkat yang berjalan di Android memiliki infeksi 15 kali lebih banyak daripada iPhone. Kepala Eksekutif Apple Tim Cook mengatakan bahwa Android memiliki 47 kali lebih banyak malware daripada iOS.

"Ini adalah angka yang menarik mengingat ukuran relatif dari pasar Android dan iOS. Android memiliki hampir 73 persen pangsa pasar di seluruh dunia, sementara iOS hanya 27 persen. Seperti halnya pasar PC dan Mac, masuk akal jika target utamanya adalah mereka yang memiliki pangsa pasar terbesar," jelas dia.

Pesan yang dikirim Apple itu berdampak pada pengembang aplikasi. Pada 2020, Apple telah menolak hampir satu juta aplikasi baru. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 ribunya menyesatkan, melanggar pedoman privasi, berisi fitur yang tidak terdokumentasi atau memiliki pelanggaran penipuan.

Terlepas dari itu semua, sebagai pengembang iOS, Anda memiliki dua pilihan. Pakai App Store atau tidak. Jika Anda adalah pengembang yang lebih kecil dan ingin memonetisasi hingga tingkat yang wajar maka Anda juga harus pakai App Store. Namun, jika Anda tidak terlalu khawatir tentang monetisasi, bisa pakai toko aplikasi selain App Store.