Medsos Ibarat Pisau Bermata Dua, Kominfo Galakkan Literasi

Aksi Kampanye Anti Hoax.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

VIVA.co.id – Masih maraknya berita palsu (hoaks), ujaran kebencian dan konten negatif lainnya di media sosial menuntut keterlibatan seluruh pihak memanfaatkan media sosial secara positif.

Direktur Jenderal Informasi Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rositasari Niken Widyastuti, mengatakan saat ini seluruh lapisan masyarakat harus didorong proses literasi media sosial.

"Baik itu pelajar dan mahasiswa maupun masyarakat umum, sehingga media sosial yang kita pakai jauh lebih sehat dengan konten-konten positif," kata Niken, dalam keterangannya, Sabtu 7 Oktober 2017.

Ia menganalogikan media sosial bak pisau bermata dua. Selain berfungsi sebagai sumber informasi dan komunikasi secara cepat namun juga membawa dampak negatif.

"Media sosial juga membawa dampak negatif untuk menyebarkan informasi hoaks, ujaran kebencian, pemutarbalikan fakta, provokasi, serta hal-hal yang berkaitan dengan SARA, terorisme, dan sebagainya," ujarnya.

Menurutnya, penyebaran konten negatif serasa sulit dicegah lantaran masyarakat masih belum dibekali dengan informasi yang cukup untuk menangkal informasi-informasi seperti itu. Yang tak mengkroscek terlebih dahulu bahkan cenderung cepat-cepat menyebarkan

"Ini yang tidak boleh terjadi lagi, sehingga literasi media sosial itu sangat penting kita gaungkan ke masyarakat. Kami (Kominfo) sudah bekerja sama dengan lebih dari 100 perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk melakukan literasi media sosial di kalangan pelajar dan mahasiswa," tuturnya.

Saat ini kata dia, instansinya sedang "rajin" menemui para pemuka agama untuk melakukan literasi media sosial kepada masyarakat masing-masing agama.

“Di beberapa tempat melalui pagelaran budaya kita melakukan pendidikan literasi media sosial sehingga kesadaran bermedia sosial secara sehat ini bisa merambah seluruh lapisan masyarakat," kata dia.