Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Rabu, 25 Maret 2020 | 04:40 WIB

Sejago Apapun Bisnis Kuliner, Kuncinya di Manajemen Keuangan

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Foto :
  • U-Report
BIsnis kuliner.

VIVA – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di perkotaan, semakin sering membeli makanan jadi, alih-alih memasak sendiri di rumah.

Data BPS juga menyebutkan bahwa pengeluaran untuk membeli makanan jadi, baik di warung, supermarket, maupun restoran, tumbuh dari 29,6 persen di 2016 menjadi 34 persen pada 2018.

Baca Juga

Hal ini didukung dengan data Nielsen pada 2016, di mana 11 persen dari populasi Indonesia makan di luar lebih dari satu kali dalam seminggu. Namun demikian, bisnis kuliner bisa dibilang merupakan bisnis yang berisiko.

Banyak sekali faktor-faktor eksternal maupun internal yang bisa mempengaruhi omzet restoran. Modal besar, lokasi strategis, dan cita rasa enak bukan lagi jaminan tunggal untuk bisa bertahan di tengah tingginya persaingan pasar.

Terpopuler

Melihat hal tersebut, jaringan restoran Jepang Marugame Udon, yang berlisensi di bawah PT Sriboga Marugame Indonesia (SMI), berfokus pada tata kelola internal dan manajemen keuangan restoran yang baik.

Untuk mengoptimalkan profit dan pertumbuhan yang seimbang, Akhmad Nurhidayat, selaku chief financial officer SMI, mengungkapkan pentingnya pengelolaan keuangan restoran yang baik untuk mendukung keputusan bisnis strategis. Berikut ini adalah tiga tips dari Marugame tentang manajemen keuangan restoran yang optimal:

Evaluasi kinerja keuangan secara konsisten

Setiap restoran harus menetapkan target return dari investasi atau target lainnya misalkan sales growth atau jumlah pembukaan outlet dalam waktu tertentu di awal lalu mengevaluasi pencapaiannya. Evaluasi pencapaian dilakukan dengan alat ukur yang sesuai atau disepakati oleh top manajemen, khususnya oleh CFO.

Misalnya, dalam industri restoran, dikenal istilah same-store sales growth dan same-store transaction growth. Kedua istilah ini adalah membandingkan sebuah restoran yang memiliki masa operasi yang sama dari dua tahun yang berbeda, dilihat dari pertumbuhan sales dan pertumbuhan transaksi.

“Evaluasi ini harus dilakukan secara konsisten dan berkala untuk melihat trennya dengan laporan dan analisa keuangan perusahaan sebagai referensi utama. Bila ada yang tidak mencapai target, kita kaji apa yang bisa diperbaiki," ungkapnya di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

Memastikan pertumbuhan terjadi secara berkesinambungan

Pada banyak kasus, top manajemen terlalu fokus pada pertumbuhan outlet atau omzet dan sedikit mengesampingkan profit. Padahal, ada banyak aspek lain yang dapat mempengaruhi keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang. Misalnya loyalitas konsumen, inovasi produk, hingga manajemen SDM.

“Merekrut karyawan berkualitas dan melatih mereka tentu butuh banyak waktu dan biaya. Karena itu, sebisa mungkin harus membuat karyawan nyaman dan betah, karena jika turnover tinggi, maka itu juga akan berpengaruh pada performa operasi restoran yang berdampak ke kinerja keuangan,” jelas dia.

Upgrade sistem dan review biaya transaksi keuangan 

Manajer keuangan harus tetap up-to-date dengan sistem keuangan terbaru yang bisa memberikan efisiensi lebih, baik itu software, ERP system, maupun upgrade SOP, untuk meningkatkan kecepatan, akurasi, dan efisiensi biaya dan laporan yang dihasilkan.

Sebagai jaringan restoran global, Marugame Udon juga melakukan berbagai transaksi internasional, terutama pembelian bahan-bahan makanan dan peralatan masak. Contohnya, Marugame tidak lama ini menggunakan jasa layanan pembayaran non bank yaitu Wallex, platform asal Singapura yang menawarkan layanan transfer dana internasional.

"Selama ini setelah memakai sistem baru dengan Wallex, kami bisa menurunkan biaya transfer internasional hingga 50-60 persen. Jadi bisnis berjalan lebih efisien dan praktis," tutur Akhmad.

Pada kesempatan yang sama, Andy Putra, selaku country manager Wallex untuk Indonesia, menyebut hal tersebut bisa dilakukan karena menerapkan harga transaksi flat sebesar Rp100 ribu per transaksi, dibandingkan penyedia layanan tradisional yang menetapkan tarif progresif.

Tidak hanya itu, Wallex menawarkan nilai tukar kurs yang kompetitif untuk 40 mata uang asing. Platform fintech ini bisa diakses secara online kapan saja, dan dapat menyelesaikan kegiatan transaksi internasional dalam waktu 1 hingga 3 hari.

“Kami sadar bahwa dunia bisnis di era digital ini berputar dengan sangat cepat dan serba online. Oleh karena itu, bisnis kelas internasional seperti Marugame pun menuntut solusi transfer internasional yang aman, praktis, dan bisa diakses kapan saja dan di mana saja," ujar Andy.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpapar Corona, Ini Data Tenaga Medis Meninggal Dunia
TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu
Terbaru