Clear Aligner, Metode Baru Rapikan Gigi

Clear Aligner
Sumber :
  • Viva.co.id/Isra Berlian

VIVA – Memiliki senyuman yang menawan bukan hanya soal sehat dan bersih saja, gigi yang rapi juga termasuk di dalamnya. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki gigi yang rapi sehingga memerlukan perawatan gigi. 

Salah satu jenis perawatan yang umum dijalani adalah menggunakan kawat gigi. Namun beberapa tahun terakhir muncul produk clear aligner. Produk ini sendiri memiliki fungsi yang sama seperti kawat gigi yaitu untuk merapikan gigi. 

Tetapi yang membedakan teknologi ini dengan kawat gigi tradisional adalah penggunaannya tidak terlihat seperti kawat gigi lantaran clear aligner ini menggunakan plastik. Hal itu diungkapkan oleh dokter gigi spesialis ortodonsia RS Pondok Indah, drg. Irwin Lesmono dalam acara small discussion grup

Lebih lanjut Irwin menjelaskan bahwa kelebihan lainnya dari teknologi ini adalah bisa dilepas terutama saat makan dan sikat gigi. 

“Bisa dilepas jadi makan normal, nanti setelah makan, sikat gigi dan berkumur bisa dipasang lagi. Selain itu juga enggak sakit karena menggunakan plastik khusus jadi enggak kenceng. Jika biasanya kawat gigi ditarik maksimal,” kata dia di Pakubuwono Jakarta Selatan, Rabu 16 Januari 2018.

Selain itu penggunaan clear aligner ini juga pasien bisa tau seperti apa gambaran hasil jika menggunakan produk seperti ini. 

“Karena tahapnya terlihat pergerakan seperti apa. Hingga berapa lama perawatannya,” jelas dia. 

Untuk penggunaan clear aligner ini sendiri nantinya para pasien datang ke dokter untuk konsultasi nantinya pasien itu akan menjalani serangkaian scan, yang hasilnya dikirimkan ke Amerika. Nantinya sekitar 1 hingga 2 bulan alat tersebut akan dikirimkan ke klinik dan dokter akan memasang alat itu kepada pasien.  

Dalam pemasangannya, dokter akan menggunakan sebuah software yang diberi nama clean check. Nantinya mereka akan mengirimkan simulasi kepada dokter untuk memberi tahu bagaimana kira-kira hasil akhir dari perawatan gigi tersebut. 

“Hasil scan dikirim ke AS di sana dokter dan teknisi akan buat rencana perawatan kalau disetujui akan dibuat alatnya baru kirim ke dokter untuk dipasang ke pasien,” kata dia.

Meski terbilang mudah, tetapi Irwin menjelaskan bahwa para pasien juga harus tetap melakukan kontrol minimal dua bulan sekali. Ini dimaksudkan untuk mengontrol pergerakan gigi sesuai atau tidak dengan seharusnya.

“Tetap kontrol ketika di tengah-tengah ada progess yang tidak sesuai ada yang bisa dilakukan rencana perbaikan sejelek-jeleknya kita scan ulang buat lagi. Pembuatan ini dibicarakan ke pasiennya. Perawatan bergantung ke klinik apakah berbayar lagi atau tidak,” ungkap dia. 

Meski terbilang praktis, namun ternyata untuk menggunakan teknologi ini tidaklah murah dan tidak bisa semua orang gunakan. Untuk standart-nya sendiri di dunia berkisar US$ 5 ribu atau setara dengan Rp70 juta (kurs Rp14 ribu). 

“Semua kembali ke pemeriksaan terlebih dahulu diagnosa untuk cek kasus seperti apa indikasinya,” kata dia.