Benarkah Sering Sakit Kepala Gejala Hipertensi?

Ilustrasi hipertensi.
Sumber :
  • Pixabay/rawpixel

VIVA – Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal yaitu melebihi 140/90 mmHg. Hipertensi sendiri jarang menunjukkan gejala, namun beberapa orang dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit kepala terutama di bagian belakang kepala.

Sakit kepala memang menjadi salah satu identifikasi seseorang menderita hipertensi. Ini diungkapkan oleh dokter spesialis syaraf, dr. Adre Mayza, SpS.

“Kita fokus pada tekanan darah, yang suka tanya perlu dibedakan sakit kepala dengan gejala penyakit lain. Kalau tidak pernah sakit kepala pas tensi normal atau naik ada kaitan dengan hipertensi. Jika sering sakit kepala tapi saat tensi naik, itu enggak ada hubungan dengan hipertensi,” kata dia dalam acara 13th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension di Sheraton Gandaria City, Jakarta Selatan, Jumat, 22 Februari 2019.

Dia menambahkan, seseorang dinilai menderita hipertensi atau tidak bukan hanya dari tekanan darah saja yang diukur. Tetapi kata dia, dokter juga bisa mengukurnya dari hipomolitas. Yang mana seseorang yang terkena dehidrasi bisa merasakan sakit kepala.

Selain itu, pakar hipertensi dan guru besar departemen penyakit dalam Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, K.Ger menyebut, orang sering salah mengartikan tentang gejala sakit kepala. Tidak sedikit yang menyebut bahwa sakit kepala menunjukkan Anda menderita hipertensi.

“Sakit kepala itu diferensial, itu lebih dari 100 kasus. Yang banyak sakit perut, gangguan perncernaan, hipoglikemi atau kurang darah, terlalu capek, lelah dan khusus kaitannya dengan itu tadi. Enggak ada hipertensi dengan sakit kepala, enggak ada, kecuali kadar gulanya 200,” kata dia.

Di sisi lain, pakar hipertensi dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP menambahkan, penting untuk selalu mengecek tensi darah bukan hanya ketika di klinik, tetapi juga di rumah. Mengingat hipertensi merupakan penyakit asimptomatik.

"Bukan hanya di klinik, tapi juga ukur di rumah abpm dan hbpm untuk singkirkan white coat HT dan masked HT," kata dia.

Pasien bisa mengukur tekanan darah sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pada pagi sebelum beraktivitas dan malam hari sebelum tidur.

"Pagi saat sebelum aktivitas, sebelum sarapan. Perhatikan juga untuk istirahat duduk dua menit sampai lima menit kemudian dicek. Kalau setelah bangun tidur, intervalnya 1 jam sebelum cek. Kedua malam hari, direkomendasikan sebelum tidur, tapi istirahat duduk diam 2-5 menit. Dan pada saat pemeriksaan hari pertama hasilnya jangan dilihat dulu, melainkan di hari kedua," kata dia. (rna)