Jangan Percaya, Sakit Kepala Hingga Leher Kaku Bukan Gejala Hipertensi

Ilustrasi sakit kepala.
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Seringkali kita mendengar, ketika ada orang yang mengeluhkan gejala sakit kepala atau leher terasa kaku, orang tersebut langsung menyimpulkan kalau tekanan darahnya tinggi atau mengalami hipertensi. Padahal, tidak selalu demikian. 

Dalam tayangan Hidup Sehat di tvOne, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, FIHA, FACC, meluruskan anggapan tersebut. Menurutnya, sakit kepala dan leher terasa kaku menjadi gejala tekanan darah tinggi, lebih banyak mitos. 

"Jadi sebagian besar tekanan darah itu tidak bergejala. Tahu-tahunya pasien datang sudah terlambat, sudah mulai timbul komplikasi di mana-mana. Itu yang membuat masalah tingginya hipertensi di negara kita," ujarnya di studio tvOne, Rabu 2 September 2020. 

Baca juga: Bakar Daun Salam di Dalam Rumah, Hal Mengejutkan Akan Terjadi

Lebih lanjut dia menjelaskan, 35 persen penduduk Indonesia, baik pria maupun wanita dewasa, sudah menderita hipertensi. Penyebab terbesarnya adalah, pasien datang terlambat ketika penyakit hipertensinya sudah parah, akibat tidak bergejala. 

"Dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, orang sudah tahu kalau hipertensi kalau sakit kepala baru datang. Tapi ada banyak sekali yang tidak ketahuan, kemudian dia datang sudah terjadi kerusakan organ. Itu yang harus kita hindari dari awal. Makanya kita harus mengenali hipertensi ini dengan lebih baik," lanjut dia. 

Selain sakit kepala dan leher kaku, banyak orang menganggap kalau tangan terasa kebas juga menjadi pertanda tekanan darah tinggi. Dokter Renan menegaskan, itu hanya mitos belaka. 

Baca juga: Studi Sederhana Mengapa Menggunakan Masker Itu Penting

"Tangan kebas gak ada urusannya dengan hipertensi. Jadi, lebih baik datang ke dokter saraf cari tahu sebabnya kenapa kebas, kalau itu mengganggu sekali. Tapi, hipertensi sebagian besar tidak bergejala, terutama kalau tensinya di bawah 200, masih banyak yang jalan-jalan," kata dia. 

Menurut Renan, tekanan darah tinggi menimbulkan gejala apabila sudah masuk dalam kategori hipertensi emergency. Di mana tensi tiba-tiba melonjak naik hingga 220 mmHg, baru akan terasa sakit kepala, nyeri, dan lain-lain, yang harus segera diturunkan. 

"Tapi kalau kebanyakan orang, dia badannya berusaha menyesuaikan dengan tensi tersebut. Tapi apa akibatnya? Tanpa gejala, badannya menyesuaikan tapi biasanya sudah mulai ada kerusakan di organ-organ itu minimal, bisa terjadi di ginjal, saraf dan jantung," tutur dokter Renan Sukmawan.