Ada Anggota Keluarga yang Menderita Diabetes, Begini Cara Merawatnya

diabetes
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Dokter spesialis penyakit dalam RSCM FKUI, Dr. dr. Dyah Purnamasari, Sp.PD, KEMD, menjelaskan pentingnya edukasi, bagi keluarga yang salah satu anggotanya ada yang menderita diabetes" target="_blank">diabetes. Menurut dia, edukator tidak hanya dari kalangan tenaga medis. 

"Edukator ini bukan hanya tenaga medis. Kerabat pasien diabetes, relawan-relawan, itu semua dikumpulkan, dilakukan training-training berkala. Jadi, keluarga pasien diabetes juga mendapatkan edukasi. Selain dia bisa memahami keluarganya sedang menderita diabetes, dia mungkin juga bisa membantu mengedukasi yang lain," ujarnya saat Media Breafing #Hands4Diabetes dari Tropicana Slim, Jumat 6 November 2020.

Selain itu, dokter Dyah menjelaskan, tidak hanya pasien, tim dokter juga akan mengedukasi keluarga pasien diabetes mengenai apa itu penyakit diabetes dan pentingnya mengontrol penyakit tersebut.

Baca juga: Selain Rezeki Melimpah, 4 Zodiak Ini Juga Temukan Jodoh di November

"Kenapa sih diabetes harus dikontrol? Supaya dia tahu, kalau keluarga diabetesnya gak dikontrol, keluarga saya akan jadi seperti apa. Supaya dia tahu pentingnya," tutur dia. 

Dyah turut menjelaskan bagaimana cara mengontrol gula darah pada pasien diabetes, yaitu dengan memerhatikan asupan makanan dan melakukan aktivitas fisik. 

"Nah, memang salah satu yang paling sulit adalah dan kami tim dokter sering menemukan betapa sulitnya mengontrol gaya hidup, terutama dengan banyaknya jenis makanan yang sangat enak-enak ini. Kita bekerja sama juga dengan tim ahli gizi, kita akan melakukan terapi nutrisi medis. Jadi, kita akan menentukan tiap-tiap pasien berapa sih kebutuhan kalorinya," kata dia. 

Dyah menjelaskan, biasanya tim medis sudah memiliki patokan untuk hitungan karbohidrat, lemak, dan protein, yang diterjemahkan dalam bentuk awam, agar keluarga pasien diabetes bisa lebih memahami. 

Baca juga: Rekor 17 Detik, Bisakah Kamu Temukan Tisu Toilet dalam Gambar?

"Misalnya nasi berapa sendok, ayam berapa potong, gak boleh digoreng, atau gimana. Nah, itu semua akan diajarkan ke keluarga. Terus makanan pengganti juga akan diajarkan. Lagi bosen ayam, boleh diganti ikan, atau bosan nasi bisa diganti roti apa, berapa lembar, jadi semua itu diajarkan," tuturnya. 

Mengingat diabetes adalah penyakit kronik dan progresif, untuk makanan dengan indeks glikemik tinggi, dokter juga akan menjabarkannya, dengan jumlah yang sangat dibatasi. Selain itu, pasien juga akan diberi tahu takaran maksimal jika ingin mengonsumsi makanan tertentu. 

"Jadi, bukan tidak boleh tapi dibatasi, itu keluarga dikasih tahu juga. Jadi, misal lagi beli makanan yang kurang baik, mungkin dia bisa membantu dengan menyamarkan penyimpanan. Misal ditaruh di lemari yang tertutup, atau di kulkas ditaruh di tempat yang burem, enggak kelihatan. Nah, itu sangat penting kerja sama keluarga," sambungnya. 

Sedangkan untuk aktivitas fisik, Dyah menyarankan agar anggota keluarga lain turut aktif memberikan dukungan, dengan melakukan olahraga bersama. 

"Untuk aktivitas fisik, sama-sama bangun pagi diajak misalnya jalan bareng. Ini sangat memberikan dukungan yang berarti untuk pasien diabetes menjalani kegiatan hariannya yang sudah diatur tadi," kata Dyah Purnamasari.