Apakah COVID-19 di Indonesia Sudah Terkendali?

Ilustrasi virus corona.
Sumber :
  • Freepik/pikisuperstar

VIVA – Positivity rate COVID-19 di Indonesia diketahui mengalami penurunan selama beberapa hari belakangan ini. Positivity rate adalah perbandingan antara jumlah kasus positif virus corona dengan jumlah tes yang dilakukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas minimal positivity rate berada pada angka kurang dari 5 persen. Apabila positivity rate suatu daerah semakin tinggi, maka kondisi pandemi di daerah tersebut semakin memburuk.

Seiring dengan berjalannya waktu, mulai dari awal pekan ini diketahui angka positivity rate di tanah air tercatat berada di bawah dua persen. Hal ini mengindikasikan penanganan pandemi yang sudah berjalan baik dan sesuai acuan.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam virtual conference, Senin, 20 September 2021.

"Selain itu, jumlah yang di-tracing dari hari ke hari juga terus meningkat. Saat ini proporsi kabupaten kota di Jawa Bali dengan tingkat tracing di bawah 5 hanya sebesar 36 persen dari total," kata Luhut.

Terbaru, menurut data dari Kementerian Kesehatan per Selasa, 21 September 2021, positivity rate mencapai 1,85 persen. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan, di mana angka positivity rate COVID-19 di Indonesia sempat tinggi pada 22 Juni 2021 lalu, yang tercatat sebesar 51,62 persen.

Dari data juga diketahui hingga pukul 12.00, Selasa 21 September jumlah tes yang dilakukan juga mengalami peningkatan dibandingkan pada Senin 20 September kemarin. Jumlah tes yang tercatat mencapai 176.440 orang har ini, sedangkan pada Senin kemarin tercatat mencapai 150.714 orang.

Sedangkan untuk kasus aktif COVID-19 juga mengalami penurunan sebanyak 3.489, sehingga total kasus aktif tercatat sebanyak 52.447 orang. Kasus pasien sembuh tercatat mengalami penambahan sebesar 6.581, sehingga total ada 4.002.706 pasien sembuh hingga saat ini.

Sementara kasus kematian akibat COVID-19 di Tanah Air mencapai 171, sehingga total kematian akibat COVID-19 di tanah air mencapai 140.845 orang.

Reproduksi kasus COVID-19 berada di bawah 1 persen

Luhut Binsar Pandjaitan juga menjelaskan bahwa saat ini reproduksi kasus COVID-19 berada di bawah 1 persen. Menurutnya, kondisi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia selama pandemi COVID-19.

"Situasi COVID-19 terus mengalami perbaikan dan hasil estimasi dari tim epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan angka reproduksi kasus di Indonesia untuk pertama kalinya selama pandemi ini, sudah berada di bawah 1 persen yakni 0,98 persen," ujar Luhut.

Angka itu, kata Luhut, berarti setiap 1 kasus COVID-19 rata-rata menularkan ke 0,9 orang atau jumlah kasus akan terus berkurang.

Meski begitu, pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali. Perpanjangan kali ini diterapkan selama dua pekan ke depan atau sampai 4 Oktober 2021.

"Diputuskan bahwa dengan melihat perkembangan yang ada maka perubahan PPKM Level diberlakukan selama dua minggu untuk Jawa-Bali. Namun evaluasi tetap dilakukan setiap minggunya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi begitu cepat," kata Luhut.

Lebih jauh, Luhut mengatakan saat ini tidak ada lagi daerah di Jawa dan Bali yang berstatus PPKM Level 4.

"Saat ini tidak ada lagi kabupaten/kota yang berada di level 4 di Jawa-Bali. Jadi, semua pada level 3 dan 2, ini harus kita syukuri," imbuhnya.

Indonesia menjadi salah satu negara terbaik dalam menangani COVID-19

Menurut data Johns Hopkins University, Indonesia menjadi salah satu negara terbaik dalam menangani COVID-19. Data tersebut dipublikasikan di situs Ourworldindata.org, per 12 September 2021.

Jubir Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, turut membenarkan hal tersebut. Menurut dia, penanganan virus corona di Indonesia mendapatkan apresiasi karena dinilai telah berhasil menurunkan angka kasus COVID-19 hingga 58 persen, dalam kurun waktu dua pekan.

"Penanganan COVID-19 di Indonesia sudah mulai memperlihatkan hasil yang cukup baik," ujarnya saat Live Siaran Pers PPKM yang diunggah di YouTube Sekretariat Presiden, dikutip VIVA, Senin 20 September 2021.
 
"Mengutip salah satu publikasi dari situs Ourworldindata.org, data dari John Hopkins University, yang terakhir di-update pada tanggal 12 September kemarin, menyatakan bahwa penanganan COVID-19 di Indonesia diapresiasi sebagai salah satu yang terbaik di dunia, karena mampu menurunkan angka kasus hingga minus 58 persen dalam kurun waktu 2 minggu," sambung dia.

Pandangan ahli epidemiologi melihat penurunan positivity rate COVID-19 di Indonesia

Lantas dengan adanya penurunan positivity rate, apakah bisa dibilang pandemi COVID-19 di Indonesia sudah terkendali? Terkait hal itu,  Epidemiolog dari University of Griffith, Dicky Budiman  angkat bicara, ia menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini belum terkendali.

"Tetapi semuanya masih dalam kondisi pandemi. Jadi kalau disebut terkendali, kalau merujuk angka positivity rate itu boleh dikatakan, tapi ini belum ditunjang dengan angka kematian, belum juga ditunjang bahwa kita masih di level comunity transmission. Jadi dua hal itu termasuk belum maksimalnya vaksinasi, artinya masih di bawah 50 persen dari total populasi belum divaksinasi lengkap itu yang menjadikan kondisinya terkendali," kata kepada VIVA.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi daerah di Jawa dan Bali yang berstatus PPKM Level 4 itu artinya kata dia di Jawa dan Bali tidak ada yang dalam kondisi buruk atau serius.

"Yang harus diingat kita ingat semua PPKM ini berhasil efektif menurunkan. Tapi berbicara efektivitas ini tidak bisa digeneralisasi ke setiap kabupaten/kota akan ada variasi terutama bicara daerah luar Jawa terutama di daerah yang rekam jejak penguatan 3T (Testing, Tracing, dan Treatmen)nya lemah ini harus hati-hati" kata ," kata dia.

Di sisi lain, terkait dengan hasil estimasi angka reproduksi corona di Indonesia yang berada di bawah satu persen itu, Dicky mengingatkan bahwa angka reproduksi Corona itu berbeda di setiap kabupaten dan kota.

"Kalau bahwa angka reproduksi di Indonesia itu turun itu kan prediksi nasional tapi kalau diturunkan pada level kabupaten/kota tentu berbeda tentu akan sangat bervariasi dan ini tergantung metodologi penghitungannya," kata Dicky.

Dicky menambahkan, "Kalau didasarkan pada angka laporan kesakitan kemudian kasus rumah sakit itu dipengaruhi oleh testingnya, jadi kembali ke kapasitas testingnya cukup bisa juga kuat valid. Ini yang harus dipahami bahwa ini data nasional dan data nasional tidak bisa diterapkan di masing-masing kabupaten/kota akan ada variasi dan itu kembali ke kualitas dari testing dan tracingnya," kata dia menambahkan.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan untuk pelonggaran PPKM ini juga perlu dicermati oleh pemerintah pusat dan daerah. Dirinya mengimbau agar pemerintah pusat dan daerah bisa melihat kondisi penurunan kasus dari suatu wilayah tersebut secara seksama.

"Misalnya di daerah sini, ini yang kita tau penurunan ini sudah sustain atau bertahan sebelumnya berapa lama, kalau baru dua minggu saya tidak rekomendasikan sebaiknya tunggu satu bulan lah menetap tidak naik turun tidak. Kalau naik turun ya itu ya jangan dulu apalagi baru dua minggu jangan mudah baik sedikit longgarnya banyak banget. Karena memperbaikinya lebih sulit, memperbaikinya lebih memerlukan waktu lagi, sayang pengorbanan itu," kata Dicky.

Pakar ingatkan adanya ancaman gelombang ketiga

Dicky menjelaskan bahwa masyarakat dan pemerintah tidak boleh lengah di tengah penurunan positivity rate COVID-19 di Indonesia. Mengingat saat ini kata dia, ada beberapa negara di dunia yang sudah mengalami gelombang ketiga. Bahkan saat ini sebagian negara terancam mengalami gelombang ketiga COVID-19 termasuk di ASEAN.

"Jadi kita tidak boleh lengah berbahaya kalau kita terlalu overconfindence. Ancaman gelombang tiga tetap ASEAN sama dengan belahan dunia lainnya juga tetap mengancam. Belum diprediksi jelas karena masalahnya ini dinamis," kata Dicky.

Dicky melanjutkan, penting juga untuk meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19. Mengingat kata Dicky semakin kecil jumlah populasi  yang belum divaksinasi lengkap semakin kecil potensi gelombang ketiga.  Tidak hanya itu saja, Dicky juga menjelaskan penting untuk tetap meningkatkan cakupan 3 T dan memperkuat 5 M untuk mencegah potensi gelombang ketiga menghampiri Indonesia.

"Tapi juga d isisi lain semakin lemah cakupan 3 Tnya dan semakin lemah 5 M nya itu memperbesar potensi adanya ledakan gelombang ketiga, jadi ini berat di semua kawasan termasuk ASEAN," kata Dicky.

Pentingnya terus mengingatkan masyarakat untuk patuhi protokol kesehatan

Dicky Budiman menjelaskan, meskipun sudah ada pelonggaran level PPKM, dan sejumlah aktivitas sudah mulai diperbolehkan dengan penerapan protokol kesehatan. Penting untuk memberikan literasi masyarakat bahwa pandemi COVID-19 ini belum berakhir.

"Ketika level di Australia terkendali bahkan 0 persen positivity rate dengan testing yang ketat itu pun orang bergerak ada penilaian risiko individu ini masing-masing keluarga, pribadi. Jadi perlu gak ke pasar tiap hari di pandemi seperti ini ke pasar cukup seminggu sekali, ke mal seminggu sekali jangan setiap hari," kata dia.

Dicky menambahkan, "Jadi yang namanya pola hidup baru, yang namanya berdamai dengan COVID-19 itu bahwa kita esensi saja, hal esensial saja yang dilakukan. Sebelumnya aktivitas kita sering nongkrong di kafe, boleh saja. Tapi dibatasi dan pilih waktunya. Termasuk bawa anak ke mal, pilih mana perlu bawa anak-anak itu berkepentingan. Ini harus dibangun di situasi pandemi ini," kata dia.