Sulit Didiagnosis, Begini Cara Jaga Kualitas Hidup Penderita Lupus

Ilustrasi wanita terkena lupus.
Sumber :
  • thinkstock.com

VIVA – Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Reumatologi, Dr. dr. Cesarius Singgih Wahono, SpPD-KR, mengatakan, penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau lupus, seringkali dikenal sebagai penyakit seribu wajah. 

Hal itu karena, manifestasi klinis dari penyakit ini sangat beragam, seperti pada kulit, sendi, ginjal dan sistem organ lainnya yang tidak selalu muncul bersamaan. 

"Setiap pasien LES memiliki gejala yang berbeda-beda. LES memiliki manifestasi klinis, kelainan imunologi, perjalanan penyakit, serta akibat penyakit yang beragam," ujar dokter Singgih saat webinar yang digelar Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA) dan Novartis Indonesia, baru-baru ini. 

Menurut dokter Singgih, manifestasi klinis pada kulit, ginjal, dan sistem organ lainnya tidak selalu muncul bersamaan, melainkan dapat berkembang seiring dengan perjalanan penyakit. Selain itu, penyakit lupus sulit didiagnosa karena memiliki banyak gejala yang sering disalahartikan sebagai penyakit lain. 

Gejala lupus.

Photo :
  • U-Report

"Penyakit ini menjadi sebuah penghalang dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena gejalanya yang muncul secara signifikan atau kambuh secara tiba-tiba, dengan didominasi gejala seperti kelelahan, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik, dan rasa nyeri," ungkapnya. 

Agar dapat mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik, Singgih memaparkan, penting bagi pasien LES untuk disiplin dengan perawatan yang dijalani. 

"Tentunya dengan pemantauan pengobatan yang ketat, 80-90 persen pasien lupus dapat menjalani hidup normal. Perawatan penyakit lupus yang bersifat jangka panjang, bertujuan untuk menekan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif, menginduksi remisi dan mencegah kerusakan organ permanen," ujarnya.

Penderita lupus.

Photo :
  • U-Report

Singgih menambahkan, pengobatan standar dari perawatan lupus adalah menggunakan non-farmakologi (edukasi, menghindari panas matahari, manajemen stres) dan pengobatan (antimalaria, steroid, dan imunosupresan atau penekan sistem imun). 

"Pada pasien lupus sedang hingga berat yang sudah melibatkan organ lain, seperti ginjal, penggunaan imunosupresan digunakan bersamaan dengan obat steroid, untuk meminimalisir efek samping jangka panjang steroid yang mungkin ditimbulkan, seperti penumpukan lemak di pipi (moon face), aterosklerosis, dan lain sebagainya. Dukungan keluarga, sahabat, dan komunitas juga memegang peranan penting," tuturnya. 

Lebih lanjut Singgih mengungkapkan, tantangan yang dihadapi oleh pasien LES begitu tinggi, terutama di tengah pandemi COVID-19. Di mana, meningkatnya risiko penularan virus COVID-19 pada pasien autoimun membuat pasien lupus harus mengambil tindakan pencegahan ekstra. 

"Pasien LES yang dirawat di rumah sakit karena sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) disebabkan oleh COVID-19, memiliki risiko mortalitas lebih tinggi dan kondisi yang buruk secara signifikan, dibandingkan dengan individu yang sehat tanpa penyakit bawaan lainnya," kata dr. Cesarius Singgih Wahono.