Kedekatan Jarak Jadi Potensi Wisata Area Perbatasan

Pos Perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Skow, Jayapura, Papua.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Banjir Ambarita

VIVA – Melalui Calender Events Cross Border 2018, Menteri Pariwisata berambisi menarik 3,57 juta wisatawan mancanegara (wisman) di area perbatasan atau cross border pada tahun 2018.

Filosofi yang diyakininya dari peningkatan wisata di wilayah perbatasan ini adalah kedekatan (proximity) dan budaya.

"Ini di dunia sudah terjadi, kenapa Indonesia tidak terjadi," ujar Arief dalam konferensi pers Calender Events Cross Border 2018 di Hotel Alila, Jakarta, Jumat, 8 Desember 2017.

Menurut Arief, kelemahan Indonesia adalah daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga ini banyak di apit oleh lautan. Ada kepercayaan bahwa 'kesaktian' pariwisata daerah itu menurun kita harus menyeberangi lautan.

"Kenapa Eropa angkanya besar sekali, karena keseluruhan Eropa itu overland (daratan), kecuali United Kingdom. Paling besar adalah Belanda, di atas 93 persen dari negara-negara yang berdampingan dengan dia," katanya.

Arief menilai, daratan menjadi akses paling besar pariwisata meskipun jarak tempuhnya lebih dari dua jam, adalah karena perjalanan darat itu sendiri dianggap sebagai pariwisata. Tidak seperti ketika naik pesawat, yang di dalam pesawatnya sendiri itu tidak dianggap sebagai pariwisata. Begitu pula dengan perjalanan laut menggunakan kapal feri.

Arief pun berandai-andai apabila ada sebuah jembatan, maka potensi kunjungan wisatawan ini akan menjadi luar biasa.

"Saya bisa buktikan, 65 persen wisatawan cross border Malaysia yang banyak dari Singapura karena adanya jembatan, jadi seperti overland. Coba jembatannya putus, saya jamin kesaktiannya hilang," lanjutnya.