Bak Cendawan di Musim Hujan
- instagram.com/falconpictures_
"Saat menjadi film, film itu karya si pembuat film, bukan lagi karya si penulis novel. Sama, baik di sini (Indonesia) maupun di dunia," ujarnya menjelaskan.
Louis Giannetti dalam bukunya Understanding Movies yang dikutip John Dean dalam tulisannya berjudul Adapting History and Literature into Movies, membagi film adaptasi menjadi tiga tipe, Loose, Faithful, dan Literal.
Loose adaptation merupakan jenis film adaptasi di mana produser, studio, dan sutradara hanya mengambil ide, tema, situasi, karakter, atau bahan mentahnya saja yang mereka inginkan atau butuhkan. Dalam hal ini, mereka berhak mengembangkan film, seperti menambahkan subplot, karakter, mengubah situasinya, dan lain-lain.
"Beberapa dari keasliannya, dalam semangat maupun faktanya, tetap ada. Loose adaptation bisa juga berarti mengembangkan beberapa bagian dari teks aslinya," tulis John Dean.
Noorca Massardi punya penjelasan senada. "Dalam film yang penting kan ada plotnya, ada karakternya. Film itu bebas menambahkan karakter lain. Penulis skenario atau sutradara boleh menambahkan tokoh baru dan sebagainya."
Faithful. Tipe ini merupakan adaptasi di mana para filmmaker mencoba sedekat mungkin dengan aslinya. "Faithful ingin tetap loyal kepada maksud dari teks aslinya demi menyampaikan isi hati dan jiwanya," kata John.
Maka dalam faithful adaptations, meski film akan mengubah secara total akhir cerita dari novelnya, filmmaker akan tetap berusaha dan yakin bahwa inti maksudnya tidak akan berubah. Sementara yang terakhir adalah literal adaptations, biasanya ditujukan untuk penampilan teater yang diangkat menjadi film.
Dalam prosesnya, secara garis besar, penulis skenario memang hanya mengambil bagian-bagian paling penting atau signifikan dari novel. Pasalnya, tak semua isi buku bisa divisualisasikan ke dalam film. Seperti pada Dilan, di mana Pidi Baiq mengawal prosesnya, baik penyutradaraan maupun penulisan skenario, hasilnya dinilai banyak orang cukup sama dengan bukunya.
"Kalau penulis skenarionya adalah penulis novel, biasanya lebih detail. Tapi kalau si penulis novel tidak ikut, maka itu murni karya si pembuat film," kata Noorca.
Ketika bicara soal hak cipta, maka Noorca menjelaskan, meski karya sastra dijadikan film, hak moral tetap ada untuk si penulis novel. "Hak ekonomi milik pembuat film. Soal royalti, tergantung apa yang diperjanjikan. Ini perjanjian privat perdata," ujar penulis senior tersebut.