Bak Cendawan di Musim Hujan
- instagram.com/falconpictures_
Dapur Penulis dan Filmmaker
Meski film adaptasi merupakan sebuah impresi atau penafsiran si pembuat film terhadap karya sastra yang akan digarapnya, bagi pembaca, selalu ada keinginan untuk mendapatkan visual sedekat mungkin dari apa yang mereka bayangkan. Berbeda dengan penikmat film yang belum pernah membaca novelnya. Mereka tak peduli dan hanya menikmatinya saja.
Di sinilah para pembuat film ditantang untuk bisa membuat sesuatu yang, setidaknya, tak mengecewakan. Harus ada penggarapan yang matang, baik dari pemilihan adegan, alur, dan daftar pemainnya. Fajar Bustomi, sutradara film Dilan 1990 menceritakan, bagaimana rasanya harus mengikhlaskan adegan-adegan yang bagus dari novel dan tidak memilihnya untuk film.
"Itu berat. Novel sendiri kan ada 330 halaman lebih, sedangkan film terbatas sama durasi. Kalau di Dilan ini saya nyutradarainnya berdua sama ayah Pidi. Nah, dia kreatornya yang menciptakan Dilan dan novelnya, jadi ya saya diskusi sama dia. Karena gimana pun juga dia yang paling tahu tentang Dilan. Jadi jangan sampai adegan yang kita ambil ternyata itu enggak terlalu ber-impact ke cerita ini. Jadi diskusi bareng sih sebenarnya. Kita lihat lagi tujuan novelnya apa, goal-nya apa, kayak gitu sih sebenarnya," katanya kepada VIVA.
Pada prosesnya, benturan pendapat selalu ada. Misalnya ketika Pidi Baiq meminta visual Milea dibuat lebih banyak dari Dilan, sementara keinginannya bertentangan. Fajar dan Pidi pun harus menikmati gesekan-gesekan itu dan mencari keputusan paling ideal. Penulis, sutradara, dan produser harus bisa berkolaborasi dengan baik jika ingin tak kehilangan inti dari novel aslinya.
Seperti Pidi Baiq yang tak mau melepas ceritanya begitu saja, Asma Nadia, penulis best seller yang 7 novelnya sudah difilmkan juga selalu meminta punya akses untuk skenario. Dia akan terlibat bersama penulis skenarionya, produser, dan sutradara untuk mendiskusikan adegan yang akan diambil.
"Kalau kita sih sebagai penulis ya cuma memberikan masukan, kalau buat saya tidak masalah ada perubahan adegan atau apa. Karena dari buku kebutuhan sebuah tulisan dengan kebutuhan visual kan beda, jadi buat saya perubahan itu tetap ada. Saya tidak masalah dengan adanya perubahan, tapi kita bicarakan sama-sama gitu," kata penulis Surga yang Tak Dirindukan ini, film adaptasinya terlaris di tahun 2015.