Bak Cendawan di Musim Hujan

Dilan 1990.
Sumber :
  • instagram.com/falconpictures_

Pemilihan pemain pun tak kalah rumitnya. Dalam hal ini, sangat penting, mengingat imajinasi setiap orang akan berbeda-beda. Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara, bercerita, selain terlibat mengawal naskah film, dia juga ikut serta dalam proses pemilihan pemain.

"Ketika dicasting juga saya ikut duduk bersama tim, kasih masukan sebagai bahan diskusi untuk kira-kira cocok apa enggak kalau pemerannya seperti ini, memerankan tokoh tersebut," katanya.

Pemilihan pemain, suka atau tidak, biasanya memang menimbulkan pro dan kontra, apalagi jika novelnya begitu terkenal. Seperti ketika Iqbaal Ramadhan pertama kali disebut sebagai aktor Dilan. Menurut Pidi Baiq, siapa pun yang akan memerankan tokoh tersebut pasti akan selalu menuai pro dan kontra. Dia pun tak mau ambil pusing dan memilih untuk menikmatinya saja.

"Keputusan memilih pemeran Dilan tidak ditentukan oleh satu orang tertentu. Ada banyak orang termasuk Lia yang akhirnya setuju Iqbaal. Prosesnya berlangsung cukup alot dan demokratis disertai banyak konsumsi yang bebas ambil. Beberapa di antara tim pemilih bahkan ada juga yang tidak setuju Iqbaal dan dia juga punya alasannya sendiri yang bisa diterima," kata Pidi melalui Instagramnya, Juli 2017.

Dari sudut pandang produser, berusaha mendekatkan ekspektasi pembaca, baik itu alur cerita maupun tokohnya adalah dengan melakukan survei dan riset mendalam. Pembuat film harus tahu apa yang paling banyak diinginkan para pembaca novel sebagai bagian dari pertimbangan. Setelah itu, tugas selanjutnya adalah mengajak si penulis novel untuk menjaga agar keasliannya tidak hilang.

"Kayak Dilan, kan dijaga sama penulis novelnya, Pidi Baiq. Saya juga menjaga, biar tidak lari, maksudnya alur cerita ya Kang Pidi Baiq yang menjaga itu. Ini produk bener, lurus. Kalau ada belok ya tolong diluruskan. Ini dikawal, dijaga banget. Bayinya dia, jadi jangan sampai lari cerita itu. Bahaya bagi pembacanya (kalau lari)," ujar Ody Mulya, Produser film Dilan 1990.

Dilirik Filmmaker

Salah satu alasan mengapa produser memilih untuk memfilmkan novel adalah karena basis pembacanya sudah ada. Asma Nadia misalnya, sudah punya pembaca loyal yang terkumpul masif di media sosial. Basis penggemarnya di Facebook saja sudah mencapai 3,1 juta, Instagram hampir 700 ribu, dan Twitter sekitar 900 ribuan. Dilihat dari satu sisi saja sudah membuat Production House tertarik untuk bekerja sama dengan penulis ini.