Bioskop dalam Genggaman

Pengunjung memilih film bioskop melalui video streaming di salah satu penyedia layanan Video on Demand di Jakarta.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Ancaman buat TV Kabel?

VOD, menurut Country Head HOOQ Indonesia Guntur S Siboro, ada dua macam, yakni yang bisa ditonton di rumah dan ponsel. Itulah mengapa, banyak layanan VOD yang juga bekerjasama dengan televisi berbayar, dalam kasus HOOQ bekerjasama dengan First Media dan IndiHome. 

Beberapa orang pengguna layanan streaming VOD yang dijumpai VIVA menuturkan sejumlah alasan mengapa menonton lewat ponsel genggam jadi pilihan. Mudah ditonton di mana saja dan kapan saja jadi jawaban yang mendominasi.

"Kalau di gadget ini bisa ditonton sambil nunggu. Di busway pakai headset sambil perjalanan pulang kerja juga bisa," tutur seorang karyawan swasta, Radityo. 

"Waktunya fleksibel. Bisa sendirian juga di kamar, sebelum tidur nonton lewat HP. Lebih privat," kata Tiara Sutari.

Hal ini seperti yang dijelaskan Guntur bahwa dari sisi experience, menonton lewat televisi akan terasa lebih luas dengan layar lebih lebar dan tak khawatir kuota data. "Tapi dari sisi mobilitas dan fleksibilitas, Indonesia (pengguna) mobile itu sangat tinggi. Ada 300 juta atau 230 juta orang yang punya handphone. Ada dua hal kenapa orang nonton di handphone, mobilitas dan personalitas," katanya menambahkan.

Sejumlah penumpang kereta mengakses gawai masing-masing di Jakarta. (REUTERS/Beawiharta)

Ponsel adalah gawai pribadi yang tak bisa dipegang orang lain. Karenanya, menonton lewat ponsel akan terasa lebih personal dibanding televisi.

Namun jika memisahkan VOD dari TV kabel itu sendiri, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi menyebut, saat ini memang masing-masing masih punya segmen tertentu. Tapi bisa saja, dalam beberapa tahun ke depan, TV kabel akan tergerus, apalagi jika dibarengi dengan kecepatan internet yang makin bagus dan stabil nantinya.

Data yang sama dari survei Nielsen yang VIVA sebutkan di awal juga menunjukkan adanya kemungkinan para pelanggan TV berbayar pindah ke layanan streaming online. Generasi Z paling tinggi kemungkinannya sebesar 40 persen, Milenial 38 persen, Generasi X 30 persen, Baby Boomers 15 persen, dan Generasi Silent 9 persen. 

Karena itulah menurut Heru, kerja sama TV berbayar dengan layanan streaming VOD menjadi salah satu strategi untuk bisa menjangkau generasi kekinian tersebut.