Sampah Plastik yang Mengerikan
- ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
"Jadi kalau kita mau buat modelnya, nanti di tahun 2035 sampah plastik kita bisa mendekati angka 50 persen," tuturnya kepada VIVA, Rabu, 5 Desember 2018.
Ia juga mengatakan, dari 8,96 juta ton sampah plastik per tahun, baru 11 persen sampah plastik yang bisa didaur ulang.
Kebutuhan akan plastik memang sulit dinafikan. Meski kecaman dan ancaman sudah di depan mata, faktanya produksi plastik di Indonesia masih tinggi. Sekjen Indonesian Olefin & Plastic Industry Association atau Inaplas Fajar Budiono, mengatakan kebutuhan plastik di Indonesia per tahun mencapai 5,8 juta ton. Jumlah itu belum terpenuhi oleh produsen di dalam negeri hanya 50 persen atau sekitar 2,4 juta ton. Sisanya dipenuhi oleh daur ulang sebesar 1,8 juta ton dan 600.000 ton lainnya dipenuhi impor.
"Dari 5,8 juta ton produksi, 60 persen di antaranya adalah untuk packaging, ada lagi untuk building material, pipa kusan karpet, itu kira-kira 20 persen. Otomotif 15 persen, kemudian, yang lain-lain 5 persen," ujarnya kepada VIVA, Rabu 5 Desember 2018.
Salah Kaprah
Dampak kerusakan yang dihasilkan dari sampah plastik sudah lama meresahkan LSM pegiat isu lingkungan. Mereka meminta pemerintah Indonesia serius menangani penggunaan plastik dan pengelolaan sampahnya.
Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Walhi Khalisah Khalid meminta, pemerintah sangat serius menghadapi kerusakan yang disebabkan sampah plastik. "Sejak dari hulunya, plastik itu merusak lingkungan. Karena bahan bakarnya dari minyak yang itu membongkar perut bumi," ujarnya kepada VIVA, Rabu, 5 Desember 2018.
Walhi bahkan mendorong untuk sama sekali menghentikan penggunaan plastik. Plastik, bukanlah "bahan pokok" bagi kehidupan. Dan banyak alternatif dari plastik yang bisa digunakan dan itu sesungguhnya telah lama dipraktikkan orang tua zaman dulu. Karena plastik sangat sulit terurai. Jika ada di laut plastik akan mengancam biota laut.
"Selain hewan yang mati dan ditemukan plastik di dalam perutnya, juga dampak ujungnya ketika laut tercemar juga pada manusia, karena sumber pangan kita juga berasal dari laut," ujarnya memaparkan.
Bahkan ketika dibakar, meski dengan teknologi seperti incinerator, itu akan berbahaya bagi manusia dari pencemaran udaranya.