Sampah Plastik yang Mengerikan

Ilustrasi sampah plastik
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Sampah plastik di laut Bali

Dorongan Walhi untuk menghentikan penggunaan plastik juga disepakati Green Peace. Menurut juru kampanye urban Green Peace, Muharram Atha Rasyadi, penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai harus dikurangi secara signifikan. Semua sektor perlu menanggapi permasalahan ini dengan serius dan mengambil peran dalam penyelesaiannya. Inisiatif pihak swasta seperti perusahaan produsen barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods) harus lebih dari sekadar melakukan daur ulang.

Perlu dingat, ujar Atha, bahwa tingkat daur ulang pun masih rendah sekali, hanya 9 persen secara global. Pemerintah perlu membuat regulasi yang fokus pada pengurangan (reduksi) dan menunjangnya dengan meningkatkan kualitas sistem pengelolaan sampah secara nasional. Terakhir, masyarakat juga harus lebih sadar akan permasalahan dan ancaman yang nyata ini.

"Bila tidak bertindak sesegera mungkin, akan semakin banyak kehidupan satwa yang terancam oleh keberadaan sampah plastik," ujarnya menegaskan.

Sekjen Inaplas Fajar Budiono mengajak publik memiliki sudut pandang berbeda soal sampah plastik. Menurutnya, problem sampah plastik bukanlah tentang barangnya. Tapi masalah orangnya, atau manajemennya. Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah saat ini salah kaprah, sebab yang diberlakukan oleh pemerintah bukan aturan yang pro industri. Sebab, sampai sekarang pengganti plastik belum ada. Jadi harus dipikirkan pengelolaan sampahnya, misalnya dulu ada bank sampah, meski kemudian mati. Menurut Fajar, kebutuhan publik dipenuhi oleh industri, jadi pengelolaan sampah plastik sebaiknya dilakukan tanpa merugikan industri.

Fajar dan sejawatnya di Inaplas mengaku sudah membuat sistem yang namanya Masar atau manajemen sampah zero waste. Asosiasi sendiri sudah membuat sistem bernama Masaro (manajemen sampah zero). Itu sudah diterapkan di beberapa tempat. Kalau sistem itu berhasil, pihaknya akan menerapkan di Pemda-pemda, di antaranya Pemda Riau, Wonosobo  dan menyusul provinsi lainnya.  

"Jadi sampah itu yang tadinya 'kumpul angkut buang', kita ubah jadi 'pilah angkut proses'. Itu nanti akan menghidupkan bank sampah, pemulung, Industri recycle plastik, terus mengurangi timbunan sampah yang ada. Karena sudah selesai di sumbernya. Tentu ada efek ekonominya," ujar Fajar dengan optimis.