Tren Uang Elektronik
- Dok. Istimewa
Namun demikian, meski sudah menjadi tren masa kini, menurut David, keberadaan uang tunai masih dibutuhkan. Uang konvensional ini perlu untuk fungsi cadangan. Dia menyebutkan, misalnya ada kasus bencana di daerah dan saat jaringan listrik mati total, maka masyarakat mau nggak mau akan menggunakan transaksi tunai.
Layanan pembayaran digital Paytren
Senada dengan David, Sugeng mengatakan Bank Indonesia memang mengedukasi masyarakat dengan GNNT untuk menggunakan transaksi non tunai. Bank sentral menyarankan masyarakat memakai instrumen non tunai untuk mendorong ekonomi. Namun di sisi lain tetap memastikan ketersediaan uang tunai rupiah. Artinya uang kartal tetap akan ada.
"Karena terdapat kebutuhan yang belum bisa dipenuhi instrumen non tunai, misalnya dalam keadaan bencana, kondisi infrastruktur yang belum optimal, dan lain-lain," ujar Sugeng.
Meski menawarkan fleksibilitas dan kenyamanan, Sugeng menekankan, pentingnya aspek keamanan dalam transaksi uang elektronik. Jangan sampai data konsumen beredar untuk kepentingan yang tidak semestinya. Maka menutunya perlu sistem keamanan berlapis dan peningkatan keamanan yang terus menerus dijaga.
Dia membandingkan, uang konvensional saja memiliki pengamanan misalnya benang hologram dan benang pengaman, maka sudah seharusnya uang elektronik perlu keamanan berlapis.
David juga menekankan perlunya back up sistem serta instituti penyelenggara uang elektronik yang harus-benar-benar dipercaya.
Soal keamanan, Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha sepakat perspektif uang elektronik tak melulu cuma bicara soal finansialnya. Menurutnya, penting untuk memastikan tiap platform uang elektronik aman.
Dia mengingatkan bagaimana Gopay menjadi andalan masyarakat pernah bermasalah dengan celah keamanan pada sistem mereka. Banyak konsumen yang kehilangan uangnya. Pengamat siber itu menunjukkan, China saja yang industri uang elektroniknya sudah matang tetap saja ada noda.
Pakar telik sandi itu mengatakan, di China ada banyak kasus gambar QR barcode yang palsu dan mengandung malware. Makanya tak heran software jahat ini menguras dompet elektronik dan mengambil data konsumen. Korban lainnya dari insiden ini, tenant atau merchant tidak mendapatkan bayaran.
"Lalu yang sudah pernah terjadi adalah lubang pada sistem dieksploitasi dan mengakibatkan hilangnya dana konsumen. Ini pernah terjadi di Gopay, namun tidak ada kabar lebih lanjut penyebabnya adalah bug atau terjadi peretasan," jelas pria asal Cepu, Blora tersebut.