Tren Uang Elektronik

Tcash menjadi LinkAja, salah satu platform uang elektronik yang jadi makin tren di Indonesia.
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Skema bakar uang ini akan pelan-pelan dilepaskan dan akan menerapkan biaya atau tarif pada merchant meski dengan nominal yang terjangkau. Menurutnya fee merchant ini akan menjadi andalan ke depan dari penyedia uang elektronik.

"Akan tetap andalkan fee merchant. Akan bagus kalau volume transaksi sudah tinggi. Tahun 2018 transaksi Gopay sudah Rp87 triliun," kata dia.

Mengingat potensi menggiurkan uang elektronik ke depan, sebagai pemimpin pasar Gopay menargetkan banyak menjalin kemitraan ke berbagai lembaga. Gopay meyakini melalui kolaborasi, ekosistem pembayaran nontunai dapat dibangun menjadi semakin kuat sehingga akan semakin banyak pula lapisan masyarakat
yang dapat kita bantu melalui ekosistem ini.

Gopay tentunya akan terus berupaya agar manfaat pembayaran nontunai dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat agar perekonomian Indonesia juga ikut terdorong.

"Gopay akan tetap berfokus pada misi utamanya, yaitu untuk menjadi jembatan bagi masyarakat menuju layanan jasa keuangan. Namun ke depan nya, kami juga berharap agar kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terjalin sehingga kita dapat membangun ekosistem bersama-sama," kata Head of corporate communication Gopay, Winny Triswandhani.
 
David mengatakan tren uang elektronik ini memang bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan pengguna bertransaksi, namun di sisi lainnya jika tak terkendali ada kecenderungan membuat pengguna konsumtif.

"Makanya harus diperhatikan juga agar produk e-commerce itu juga didorong produksi dalam negeri. Kalau tidak, nanti transaksi berjalan kita itu jebol lagi," ujar David yang juga pengamat keuangan tersebut.

Dia memberikan catatan, dampak dari uang elektronik bisa dilihat dari mulai sepinya pusat perbelanjaan. Berkurangnya pengunjung di mall, kata dia, bukan berarti aktivitas ekonomi tidak bergerak namun terjadi perubahan pola.

"Bukan berarti aktivitas ekonomi tidak bergerak karena kita lihat pergerakan e-commerce itu eksponensial karena barang bisa setiap hari datang paketan ke rumah. Kalau ibu-ibu bapak-bapak tidak ke mall saya rasa itu bisa saja ke rumah," kata dia.

Pengamat Gaya Hidup Dwi Sutarjantono menyarankan supaya tak terjebak pada budaya konsumtif akibat uang elektronik yakni harus benar-benat memperhatikan pengeluaran, pendapatan dan gaya hidup.