Terguncang Harga Rokok Selangit

Sejumlah warga petani tembakau yang tergabung dalam APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) melakukan aksi damai tolak kenaikan harga rokok.
Sumber :
  • ANTARA/Anis Efizudin

Jumlah petani cengkih di Indonesia mencapai satu juta orang. Bila produksi terganggu, Ketut khawatir akan mendatangkan masalah baru, yakni pengangguran. Maka itu ia menyarankan agar setiap penelitian terkait kesehatan dan rokok bisa menciptakan solusi yang tepat untuk masing-masing pihak.

Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono mencatat banyak sektor industri yang hancur bila kenaikan harga rokok ini benar-benar nyata. Industri hulu hingga hilir akan mengalami guncangan hebat. Mulai dari petani tembakau, industri pupuk, manufatur, hingga kios-kios kecil.

“Rokok sudah jadi kebutuhan primer bagi para perokok. Bila kebutuhan primer dinaikkan harganya, tidak saja memunculkan kemiskinan, tapi juga kriminalitas,” katanya.

Menyoal penelitian Hasbullah, Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia Hasan Aoni Aziz meragukan kenaikan harga rokok bisa menurunkan prevalensi perokok. Yang terjadi, justru meningkatkan rokok-rokok ilegal. Merujuk pengalamannya, saat pemerintah menaikkan cukai rokok secara bertahap sebanyak tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun pada kurun 2001 hingga 2003, konsumsi memang menurun, namun rokok ilegal menjadi marak.

Namun Hasbullah menyangkal pemikiran kenaikan harga rokok akan menciptakan pengangguran dan menghancurkan industri ini dari hulu ke hilir. Menurutnya, itu hanya asumsi yang tidak bisa dibuktikan. Malahan, ia menambahkan, jika mau dihitung, kenaikan  harga rokok juga akan menguntungkan industri dan pemerintah.

"Ya silakan saja dihitung. Industri ketakutan, jadi mereka menilai kalau hasil penelitian kami akan mematikan industri rokok. Padahal tidak demikian. Lebih banyak yang berkomentar emosional dan tidak pakai hitung-hitungan," kata dia.

Dukung Hasbullah

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menjadi lembaga yang terang-terangan  mendukung penelitian Hasbullah. Ia yakin kenaikan harga rokok dapat menurunkan tingkat konsumsi rokok di rumah tangga miskin.

"Ini hal yang sangat logis, karena 70 persen konsumsi rokok justru menjerat rumah tangga miskin. Data BPS setiap tahunnya menunjukkan bahwa, pemicu kemiskinan di rumah tangga miskin adalah beras dan rokok. Dengan harga rokok mahal, keterjangkauan mereka terhadap rokok akan turun," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi, Kamis 25 Agustus 2016.