Heboh Padepokan 'Tipu-tipu'

Polisi menunjukkan barang bukti dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi di mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sumber :
  • ANTARA/M Risyal Hidayat

Bahkan, dari pengakuan Gatot dan korban kepada penyidik, persetubuhan dilakukan secara bergantian. Namun, korban mengaku melakukan itu dalam keadaan kurang sadar, karena terpengaruh narkoba.

“Korban mengaku suka melakukan perbuatan seks lebih dari dua orang dan Aa Gatot juga mengakui bersama sang istri,” kata Awi.

Selain narkoba dan pelecehan seksual, Gatot juga terjerat kasus kepemilikan senjata api dan kepemilikan satwa langka. Untuk kasus kepemilikan senjata api, kepolisian masih memeriksa saksi-saksi, sambil menunggu kasus narkoba di Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat. Untuk kasus kepemilikan satwa langka, status Gatot sudah tersangka.

Terkait kasus pelecehan seksual, saat ini baru dua korban yang melapor. Mereka masih terus diperiksa. Dalam kasus ini, status Gatot sendiri masih terlapor.

“Kami juga melakukan tes DNA kepada anak salah satu pelapor, yang diduga adalah hasil hubungan dengan Aa GB. Kami juga akan melakukan tes DNA ke Aa GB untuk membuat terang kasus ini dan penyidik akan ke NTB dan berkoordinasi dengan penyidik di sana,” kata Awi.

Padepokan “Facebook”

Anton Hardiyanto tertunduk lesu. Dia hanya bisa menyesali perbuatannya, karena telah membunuh dua pemuda di Depok, Jawa Barat. Dia kini mendekam di tahanan Polres Depok.

Pria 34 tahun ini merupakan Pemimpin Padepokan Satrio Aji Danurwenda. Padepokan ‘abal-abal’ yang dibuat untuk mencari keuntungan pribadi. Sebelum kasus ini mencuat, Anton tinggal di kontrakan pamannya di Jalan M. Yusuf, RT 2 RW 21, Sukmajaya, Depok.

Ditemui di Polres Depok pada Kamis, 13 Oktober 2016, dengan wajah lesu, Anton menceritakan ihwal membuat padepokan ‘tipu-tipu’.

Beberapa bulan ini, Anton membuka Padepokan Satrio Aji Danurwenda. Padepokan ini tidak seperti padepokan pada umumnya. Padepokan buatan Anton hanya ada di situs jejaring sosial Facebook. Anton berdalih, sarana itu digunakanya untuk berdagang.

“Biasa buat tukar informasi, jual barang-barang antik dan silaturahmi saja. Intinya buat kumpul-kumpul saja. Saya kan sampingannya jual barang-barang itu (antik). Kerjaan saya sehari-harinya buruh serabutan. Ya terserah mau dibilang apa,” kata Anton.

Ide mendirikan padepokan di Facebook itu berangkat dari inisiatifnya. Tujuannya, supaya barang dagangannya laku keras. “Kalau dari media sosial kan gampang nyebar-nya,” begitu dalih Anton.