Heboh Padepokan 'Tipu-tipu'
- ANTARA/M Risyal Hidayat
“Dia (Gatot) sempat mau keluarkan asap dari mulut dia ke mulut saya. Di situ saya enggak mau, dan keluar dari sana. Saya enggak tahu maksudnya dia apa mau keluarkan asap ke mulut saya,” kata Rency.
Soal banyaknya wanita muda di sekeliling Gatot, Elma tak berkata banyak. Namun dia membenarkan. Sepengetahuannya, wanita-wanita itu merupakan anak angkat Gatot. Konsultasi yang kadang dilakukan sendiri-sendiri itulah, membuat Elma tak tahu banyak apa saja yang Gatot lakukan bersama wanita-wanita tersebut.
“Aku enggak tahu-menahu terjadi korban anak-anak, enggak tahu, karena tak ada satupun anak itu cerita sama aku. Aku tahu ya itu anak angkat, karena mereka panggil ‘Papa’. Aku enggak ngerti masalah anak-anak itu,” ujar Elma.
Wahyu, sahabat dan juga pendiri padepokan, juga tak menyangkal soal wanita-wanita muda di sekeliling Gatot. Menurut Wahyu, wanita-wanita muda itu adalah anak angkat Gatot. Pendidikan dan biaya hidup mereka dibiayai oleh Gatot. Beberapa wanita tersebut juga diketahuinya pergi dari rumah dan memilih padepokan sebagai tempat perlindungan.
“Ya dilihat latar belakangnya dulu. Kalau memang broken home segala macam, ya harus ditampung. Ada yang dari Surabaya, Sukabumi. Kalau mereka butuh kuliah, ya dari situ. Begitu lulus, mau kerja, ya sudah. Tidak terus ditahan,” kata Wahyu.
Artis Nadine Chandrawinata berjalan keluar ruangan usai menjalani pemeriksaan di Resmob Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/9/2016). Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Proses Hukum
Pihak padepokan boleh saja menyangkal. Tapi, kasus yang menjerat Gatot terus bergulir di kepolisian. Gatot dan para korbannya terus diperiksa. Bahkan, kepada penyidik, Gatot mengakui beberapa perbuatannya. Seperti melakukan persetubuhan dan memberikan narkoba jenis sabu, yang disebut-sebut aspat, kepada murid-muridnya.
“Dari pemeriksaan saksi korban dan Aa GB memang mengakui. Korban mengaku bahwa selama ini dia dicekoki aspat yang baru diketahui ternyata adalah sabu. Sampai 2002 ngakunya Aa GB menggunakan aspat dan sejak 2002 ke atas baru menggunakan sabu,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono saat berbincang dengan VIVA.co.id, Rabu, 13 Oktober 2016.