Lampu Kuning Ritel Konvensional
- REUTERS/Darren Whiteside
Meski demikian, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), perusahaan ritel gaya hidup, yang di antaranya membawahi Lotus Department Store, Sogo, Debenhams, Lotus, dan Seibu pada semester pertama 2017, masih mampu mencatatkan kenaikan pendapatan bersih 15,8 persen menjadi Rp7,7 triliun dibanding 2016 yang tercatat Rp6,6 triliun.
Laba usaha pun meningkat 58,8 persen dari Rp354,4 miliar menjadi Rp548,7 miliar. Laba bersih tercatat naik 278 persen menjadi Rp175 miliar dari Rp46,3 miliar yang tercatat pada periode semester pertama 2016.
Fetty Kwartati, Head of Corporate Communication MAP, dalam siaran pers yang disampaikan kepada BEI mengatakan, perusahaan akan terus berupaya meningkatkan sinergi dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi di seluruh bagian.
"Menghadapi semester kedua, kami akan terus mengimplementasikan strategi pertumbuhan perusahaan untuk 2017,” ujarnya.
Namun, dalam laporan keuangan yang dilaporkan ke BEI, beban pokok penjualan dan pendapatan perusahaan selama periode enam bulan 2017 terlihat meningkat.
Mitra Adiperkasa yang juga mengelola gerai-gerai dan merek ternama seperti Zara, Marks & Spencer, Planet Sports, Reebok, Sports Station, The Athlete’s Foot, Starbucks, hingga Burger King itu mencatatkan beban penjualan Rp3,93 triliun, atau naik dari Rp3,48 triliun pada periode sama 2016. Per Juni 2017, MAP mengoperasikan 1.947 gerai ritel di 69 kota di Indonesia.
Selanjutnya, Strategi Pasar
Strategi Pasar
Menanggapi penutupan gerai ritel di Jakarta, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan, tutupnya ritel tentu sangat erat kaitannya dengan strategi pasar.
Sebab, bila pasar tidak menguntungkan, pilihan yang logis adalah menutupnya dan mengalokasikan sumber daya untuk hal lain, seperti pembangunan gerai baru, peningkatan kualitas gerai yang sudah ada, perbaikan sistem kinerja dan rantai suplai.
"Bila melihat kasus Matahari ini sepertinya location specific, karena memang tempatnya sepi, jadi mereka harus memotong kerugian dengan menutup operasi beberapa gerainya," ujarnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahja Widayanti, menilai tutupnya sejumlah gerai ritel merupakan hal biasa dalam usaha dan salah satu strategi menjaga kinerja keuangan.
Menurut dia, penutupan biasanya dilakukan terhadap gerai yang mengalami kerugian yang tidak mungkin dipertahankan lagi, karena akan membebani kinerja keuangan perusahaan.