Lampu Kuning Ritel Konvensional
- REUTERS/Darren Whiteside
"Dari hasil pengamatan kami, gerai ritel yang ditutup terjadi di lokasi yang kurang strategis atau pengelola yang terlambat beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang dinamis," ujar Tjahja kepada VIVA.co.id.
Suasana gerai Metro Department Store yang ada di Mall Gandaria City, Jakarta. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Sementara itu, terkait daya beli yang ditengarai membuat gerai ritel tutup, Tjahja menilai hal itu tidak tepat. Sebab, konsumsi hingga kuartal II-2017 masih di kisaran 4,96 persen atau turun sedikit dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 5,02 persen.
Ia mengatakan, melihat kondisi saat ini, turunnya konsumsi lebih lebih disebabkan kecenderungan masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah atas untuk menahan belanjanya dan bukan lemahnya daya beli.
Kondisi itu pun terkonfirmasi dari melonjaknya simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Data Bank Indonesia mencatat posisi DPK per Juli 2017 mencapai Rp4.897 triliun, atau tumbuh 9,5 persen dibandingkan posisi Juli 2016 atau year on year (yoy). Pertumbuhan DPK yoy pada Juli 2017 lebih cepat ketimbang Juli 2016 yang hanya 6,8 persen.
Sementara itu, terkait turunnya pendapatan ritel konvensional dipengaruhi bisnis online, Tjahja menyatakan bisa saja terjadi. Namun, kondisi itu belum berdampak signifikan terhadap penurunan omzet perusahaan ritel.
Sebab, dia melanjutkan, berdasarkan data Nielsen Indonesia 2016, ritel online hanya memberikan kontribusi paling banyak 0,5 persen dari total transaksi kebutuhan sehari-hari. Meskipun, data dari total survei ritel 2017, konsumen yang berbelanja sudah mulai mengalami pergeseran dari offline ke online.
Selanjutnya, Pertumbuhan E-Commerce
Pertumbuhan E-Commerce
Pergeseran pola belanja masyarakat ke transaksi online, memang tidak bisa dipungkiri. Kondisi itu terlihat dari meningkatnya pertumbuhan e-commerce di Tanah Air.
Executive Director Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Nazrya Octora, mengatakan, pertumbuhan e-commerce di Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Penjual online terus bertumbuh, namun fenomena ini tidak akan menyaingi eksistensi toko konvensional yang sudah ada sebelumnya.
Menurut dia, keberadaan toko online tidak lepas dari kehadiran toko offline. Toko online tidak akan tumbuh tanpa ada toko offline. Di China dan Amerika, persentase e-commerce hanya sekitar 8-9 persen, sedangkan di Indonesia berkisar 1-2 persen.