Alasan Kendaraan Listrik Masih 'Redup' di Indonesia

Mobil listrik Tesla Model 3
Sumber :
  • REUTERS/Tesla Motors

VIVA.co.id – Peminat mobil bertenaga listrik di Indonesia memang masih terbilang sedikit dibanding Jepang dan Eropa. Sebab, selain pemerintah belum menetapkan aturan khusus, pajak mobil mahal tentu juga lebih besar.

Meski begitu, Prestige Image Motorcars sebagai importir umum tetap berani menjual mobil bertenaga listrik, Tesla Model S yang diboyongnya utuh dari Amerika Serikat. Bahkan untuk Tesla Model X telah didatangkan ke tanah air sejak dua tahun silam.

Yang jadi pertanyaan, apakah produk-produk premium dengan harga mahal ini laku terjual di Indonesia? Terlebih dengan kenyataan bahwa infrastruktur untuk kendaraan listrik belum memadai terutama tempat pengisian baterai di pinggir jalan.

Presiden Direktur Prestige Image Motorcars, Rudy Salim, mengatakan, biasanya yang mau membeli Tesla itu memang sudah memiliki banyak mobil. Sedangkan untuk tingkatan usia, pembeli produk Tesla biasanya berumur antara 30 sampai 40 tahun.

“Yang kita inginkan justru orang yang baru mau punya mobil listrik melirik Tesla. Kalau di Amerika anak baru 20 tahun mau saja dibeliin orang tuanya mobil listrik dan mereka milihnya Tesla. Karena bensinnya mereka mahal sekali,” ujarnya di Pluit, Jakarta Utara.

Karena di Indonesia tidak ada peraturan khusus mobil yang rendah emisi dan bertenaga listrik, lanjut Rudy, tidak heran kalau masih banyak orang yang belum peduli. Menurutnya, agar konsumen mau membeli perlu penjelasan khusus soal keamanan mobil listrik ini dan nilai ekonomisnya.

“Di Indonesia bensinnya juga mahal, tapi masih enggak kepikiran (mobil listrik) karena di sini harganya sudah terlampau jauh, ya itu banyak pajak yang dikenai. Mengenai infrastruktur memang di indonesia belum ada tapi yang penting mobilnya bisa reliable,” tuturnya.

Sebagai catatan, Tesla Model X ini bisa berjalan hingga 350 kilometer dalam keadaan baterai penuh. Jadi menurutnya kalau untuk sehari-hari saja cukup dan enggak usah terlalu takut dengan infrastruktur.