Mengapa Tren Modifikasi Airbrush Mulai Sepi?

Modifikasi Datsun GO.
Sumber :
  • Herdi Muhardi/VIVA.co.id

VIVA – Beragam cara dilakukan para pemilik mobil demi menjadi beda dengan mobil pada umumnya. Modifikasi biasanya dilakukan dengan mengubah kaki-kaki, seperti pelek, ban, sistem hiburan dan sejumlah produk aftermarket. Tetapi, eksterior terkadang juga tak luput dari sentuhan modifikasi, seperti halnya airbrush atau memasang cutting sticker.

Yang patut dicermati, belakangan tren pengaplikasian airbrush mulai bergeser, bahkan cenderung makin sepi ditinggal pemodifikator. Benarkah demikian?

Menurut, Tomi Gunawan, penggawa Tomy airbrush di Central Park, Jakarta Barat, pengaplikasiannya memang mulai bergeser. Sebab pencinta otomotif saat ini sudah lebih mengerti dengan perkembangan tren.

“Tergantung, kalau misalnya tren tahun 2005 sampai 2010, warna terang itu benar-benar dipakai dan hampir semua modifikasi mobil menggunakan warna terang dan full airbrush, di jenis mobil apa pun,” kata Tomy.

Menurutnya, berbeda dengan pencinta modifikasi zaman sekarang, di mana pengetahuan mereka lebih luas karena pemilik mobil dengan mudahnya mengakses internet dan mereka bisa melihat tren warna atau gambar sekalipun yang lebih cocok diaplikasikan ke ekterior mobilnya.

“Jadi penggemar modifikasi sekarang sudah segmented, misalnya ada yang lebih ke aliran JDM, VIP, jadi sudah lebih terbagi. Berbeda dengan zaman 2003 sampai 2010, mobil besar dan kecil itu pasti semuanya ngikutin (warna dan airbrush), kalau sekarang sudah tidak,” tuturnya.

Lantas apakah ada pergeseran peminat airbrush atau teknik pengecatan, mengingat saat ini sudah ada cutting sticker dan digital printing, di mana pemilik mobil dengan mudahnya mengganti warna atau gambar mobilnya.

“Tergantung orangnya sih, cutting stiker atau digital printing biasanya orang-orang yang cepat bosan, jadi dia enak menganti warna sesuka hatinya. Berbeda dengan orang yang suka sama satu desain atau motif dan konsisten pasti dia memilih airbrush,” katanya.