Dilema Kesehatan Gigi dan Mulut
- Pixabay/pexels
Pada kasus Vadim, penjalaran bakteri akibat infeksi gigi terjadi di paru-paru. Dokter menemukan ada banyak cairan di paru-parunya dan membuat yang bersangkutan menjadi susah bernapas.
Ketika organ yang terdampak sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, tentu berisiko terjadi kefatalan. Kejadian paling parah adalah kematian.
Bukan hanya kematian, sakit gigi juga memicu serangan jantung dan stroke
Dilansir Web MD, gusi merupakan bagian dari penyangga gigi. Jika gusi mengalami peradangan, maka dapat menyebarkan kuman penyakit. Saat gusi meradang, ada jalan masuk kuman ke dalam tubuh manusia.
Bakteri atau kuman penyakit pada akhirnya bisa masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan. Penyumbatan pembuluh darah inilah yang kemudian memicu stroke dan penyakit jantung.
Berdasarkan penelitian, penderita sakit gusi pada usia 25-51 tahun dapat meningkatkan risiko sakit stroke hingga 50 persen.
Selain itu, risiko sakit jantung meningkat dua kali lipat pada penderita sakit gusi. Bahkan, meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur pada ibu hamil yang menderita sakit gusi dan penyakit diabetes.
Mirisnya, penyakit gusi bisa berawal dari adanya plak di gigi yang tidak pernah dibersihkan. Plak-plak tersebut akan berkembang jadi karang gigi, hingga akhirnya terjadi peradangan gusi.
Dilema para dokter gigi
Untuk mengatasi masalah gigi dan mulut tidaklah mudah, karena persoalan yang dihadapi bukanlah semata hanya gigi berlubang. Namun lebih besar dari itu adalah sebuah budaya, dan habit atau kebiasaan.
"Munculnya masalah karies dan masalah kesehatan gigi erat kaitannya dengan kebiasaan menjaga kebersihan gigi salah satunya kegiatan menyikat gigi dua kali sehari," ujar Hananto Seno.
Hal itu menurut Hananto, juga dipicu oleh kurangnya kepedulian menjaga gigi dan mulut. "Karena kita kurang peduli dengan aktivitas perawatan gigi dan mulut. Orang baru ke dokter gigi setelah sakit. Belum lagi orangtua hanya fokus di sekolah (pendidikan) anak saja, dan mengabaikan masalah pencegahan (preventif)," ujarnya.
Melakukan tindakan preventif erat kaitannya dengan pengeluaran untuk pos kesehatan setiap tahunnya, apalagi layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak memberikan layanan penuh (gratis) untuk tindakan gigi. Itu artinya pasien harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan pelayanan dokter gigi.