May Day, dari Demo Massa Hingga Zikir Bersama Investor

Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2013 di HI
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin
VIVAnews – Peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) yang digelar di Jakarta dan kota-kota lainnya seantero Indonesia, 1 Mei 2013, berjalan relatif aman dan tertib. Tidak ada insiden atau bentrokan yang terjadi antara buruh dan aparat kemanana atau masyarakat umum.

Massa paling banyak terkonsentrasi di Jakarta. Ratusan ribu buruh dari Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Karawang, dan Banten berkumpul di ibukota. Mereka menggelar aksi demonstrasi di tiga titik utama, yakni Bundaran Hotel Indonesia, Istana Negara, dan Gedung DPR.

Buruh juga menyasar instansi pemerintah. Antara lain Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, gedung Mahkamah Konstitusi, dan kantor Komisi Pemilihan Umum.

Menjelang siang, Bundaran HI yang merupakan pusat kota Jakarta jadi lautan buruh. Mereka meneriakkan yel-yel perjuangan, mengibarkan berbagai bendera serikat pekerja, dan meneriakkan sejumlah tuntutan kepada pemerintah terkait perbaikan nasib buruh. Lalu lintas di Jalan Thamrin pun lumpuh total sehingga jalan itu ditutup dan lalu lintas dialihkan ke jalan alternatif.

Sedikitnya ada 9 tuntutan buruh kepada pemerintah, yaitu penghapusan sistem outsourcing
(tenaga alih daya), revisi Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menjadi 84 poin dari 60 poin yang ada saat ini, penolakan penangguhan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR), penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penghentian pemberangusan serikat pekerja, penolakan potongan gaji untuk iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), pengadaan rumah layak huni untuk buruh, pengadaan beasiswa untuk buruh, dan penetapan 1 Mei menjadi hari libur nasional.


Rencana pemerintah menaikkan harga BBM – meskipun ditunda, juga ramai diprotes massa buruh. Presiden Konferedasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, kenaikan harga BBM akan mengakibatkan naiknya harga kebutuhan pokok rakyat, sehingga daya beli rakyat kecil menurun. Kenaikan harga BBM juga bakal mendorong naiknya biaya sewa tempat tinggal dan ongkos transportasi. Semua itu amat memberatkan buruh dan tidak sesuai dengan kenaikan jumlah upah buruh.


Puluhan ribu buruh yang melakukan aksi di Jakarta berasal dari beberapa serikat pekerja, antara lain 40 ribu anggota KSPI, 1.500 anggota Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), 1.000 anggota Komite Aksi Buruh Tangerang Bergerat (Kabut), 2.000 anggota Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan 2.000 anggota Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM-SPSI), 1.000 anggota Forum Buruh DKI Jakarta, 500 anggota Buruh Jakarta Bergerak.


Hingga siang hari, Polda Metro Jaya mencatat tak kurang dari 50 ribu buruh Jabotabek, Karawang, dan Banten masuk ke Jakarta untuk mengikuti aksi May Day. Jumlah itu belum semua karena selepas zuhur, ribuan buruh lainnya juga menyusul memasuki wilayah ibu kota RI itu. Jalan-jalan protokol utama Jakarta pun dipenuhi oleh konvoi motor buruh dan bus pengantar buruh. Bus buruh yang terparkir di Monas saja berjumlah 775 unit. KSPI mengklaim total butuh yang mengikuti aksi May Day berjumlah sekitar 135 ribu – sungguh kekuatan yang luar biasa untuk melakukan perjuangan.


Gubernur Memilih "Kabur"


Aksi buruh tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain. Di Bandung misalnya, ribuan buruh “menyerbu” Gedung Sate yang menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat. Sedikitnya 2.500 buruh memerahkan gedung itu. Mereka berasal dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI),  Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992, Konfederasi Serikat Nasional (KSN), dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).


Arus lalu lintas di depan kantor Gubernur Jawa Barat itu pun ditutup total, karena buruh menguasai seluruh badan jalan hingga area Jalan Dipenegoro. Polrestabes Bandung menjaga ketat akses keluar-masuk jalan tol di Bandung seperti gerbang Tol Pasteur, Pasir Koja, Kopo, Moh Toha, dan Buah Batu.


Namun ketika buruh mengepung Gedung Sate, sang Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tidak berada di tempat. Ia sedang menghadiri acara Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong X dan Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-41 Tingkat Provinsi Jabar di Soreang, Kabupaten Bandung.


Bukan hanya Gubernur Jabar yang tidak ada di tempat ketika kantornya dikepung buruh. Hal yang sama juga terjadi di DKI Jakarta. Saat ratusan buruh melakukan aksi di Balai Kota DKI Jakarta dan ingin menyampaikan 11 tuntutan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Gubernur DKI Joko Widodo juga sedang tidak ada di kantornya. Jokowi rupanya sedang blusukan, sedangkan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga tidak bisa menemui para buruh.


Hal ini rupanya membuat kesal buruh. Dalam orasinya, koordinator aksi FSP LEM-SPSI Muhammad Toha mengatakan mereka sangat kecewa karena tidak bisa menemui Jokowi dan Ahok. “Mungkin saat ini Jokowi lagi sakit gigi, Ahok juga. Tapi kami harap mereka bisa mendengarkan tuntutan yang kami sampaikan,” ujar Toha.


Menurutnya, buruh DKI berharap Pemprov DKI Jakarta membantu para karyawan kontrak yang selama ini dinilai sudah salah urus. “Ada yang sudah bekerja sepuluh tahun, statusnya masih dikontrak. Itu kontrak ngawur. Jokowi harus menindak pengusahanya. Kalau tidak dia akan kami sebut gubernur ngawur,” ucap Toha.


Zikir Bersama Investor


Aksi berbeda digelar oleh buruh Kabupaten Bekasi. Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja di kabupaten itu menggelar zikir akbar bersama Forum Investor Bekasi (FIB) di kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Menteri Agama Suryadharma Ali hadir dalam acara itu.


Tak hanya buruh, warga juga ikut berzikir. “Memperingati Hari Buruh Sedunia dengan cara berzikir bersama hanya ada di Bekasi, dan ini satu-satunya di dunia. Mudah-mudahan cita-cita buruh dapat terwujud, dan menjadi buruh yang profesional serta bermartabat,” kata Menag.


Ketua SPSI Cabang Bekasi, R. Abdullah, mengatakan kegiatan zikir bersama itu digagas organisasinya dan FIB. “Sebagai bentuk sujud syukur karena di Kota dan Kabupaten Bekasi, tahun ini permasalahan buruh sudah mampu diselesaikan hingga 90 persen. Biasanya setiap May Day kami teriak-teriak di depan patung kuda dekat Istana Negara ataupun di depan patung Jenderal Sudirman, Jakarta. Kali ini kami teriak-teriak sama Tuhan, supaya doa dikabulkan,” kata Abdullah.


Selain zikir, buruh juga memberikan petisi kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin yang berisi tuntutan pembentukan Pengadilan Hubungan Industrial di Bekasi. Buruh juga meminta Dinas Tenaga Kerja bekasi meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan.


Meskipun sudah menggelar acara bernuansa rohani untuk memperingati May Day, namun SPSI Bekasi mempersilahkan anggotanya untuk mengikuti aksi unjuk rasa besar di Jakarta. Maka usai berzikir, sekitar 9.000 buruh SPSI Bekasi langsung bertolak menuju Jakarta untuk bergabung dengan rekan-rekannya dari kota lain.


Libur Nasional


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional mulai tahun depan. Hal itu disampaikan SBY di hadapan 1.000 buruh PT Maspion di Sidoarjo, Jawa Timur, bertepatan dengan Hari Buruh itu. “Insya Allah tahun depan, 1 Mei menjadi hari libur nasional,” kata SBY.


Hari libur nasional memang menjadi salah satu tuntutan buruh, karena di negara-negara lain pun Hari Buruh ditetapkan menjadi hari libur. SBY mengatakan, 1 Mei menjadi hari libur nasional supaya buruh dan manajemen perusahaan bisa memperingati May Day dengan baik.


Sebelumnya, Senin 29 April 2013, SBY mengatakan sudah seharusnya buruh Indonesia ikut merasakan manfaat dari membaiknya pertumbuhan ekonomi negara. Ia pun mengatakan pemerintah RI berkomitmen menaikkan kesejahteraan buruh.


“Kami tidak ingin pertumbuhan ekonomi baik, tapi pekerja jalan di tempat. Secara moral ini tidak adil,” kata SBY saat menerima sejumlah pimpinan federasi buruh di Istana Negara beberapa hari lalu. Namun, ujar SBY, kenaikan tingkat kesejahteraan pekerja harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Jangan sampai perusahaan merugi karena mengupah pekerjanya terlalu tinggi.


Kondisi sosial, ekonomi, dan politik negara yang terjaga dengan baik, juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan. “Kalau perekonomian tumbuh, yang menganggur bisa bekerja,” kata SBY. Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang tertinggi dan terbaik di ASEAN.


Untuk diketahui, upah buruh di Indonesia merupakan salah satu yang terendah dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Upah buruh RI masih di bawah Rp2 juta. Hanya upah buruh Jakarta saja yang sudah di atas Rp2 juta, itupun belum direalisasikan semua perusahaan di DKI. Sementara upah buruh minimal di Thailand Rp2,1-2,8 juta, Malaysia Rp2,4 juta, dan Filipina Rp3 juta.


Baca juga: