Mengusut Tindakan Densus di Kematian Siyono

Ilustrasi/Densus 88 menangkap terduga teroris di Solo beberapa waktu lalu
Sumber :
  • VIVAnews/Fajar Sodiq



'Uang Damai'

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti membenarkan telah memberikan uang pada keluarga Siyono. Kala itu, Kapolri bilang uang itu diberikan sebagai bentuk kemanusiaan. "Ya namanya kemanusiaan, ya sah-sah saja," kata Badrodin, Selasa lalu, 29 Maret 2016.

Badrorin membantah bahwa uang itu diserahkan sebagai bentuk suap, agar permasalahan kematian Siyono tidak dipermasalahkan keluarga. Ia mengatakan, uang tersebut merupakan uang pembinaan dan rasa kemanusiaan dari Polri kepada keluarga Siyono.

"Sogok mana maulah orang. Begini ya, namanya kemanusiaan. Kalau enggak mau terima, ya enggak apa-apa," ujarnya. []

Namun, penolakan keluarga terduga teroris Siyono atas pemberian uang oleh Kepolisian itu sempat dipersoalkan. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan menyesalkan pengembalian itu justru dilakukan tidak dari awal.

Ia bahkan curiga penolakan itu justru terjadi ketika ada sekelompok orang yang membela Siyono muncul.

"Kalau ditolak (uang dua gepok) kok enggak dari awal? Sekarang dikembalikan. Eh, pas ada golongan tertentu pro teroris dikembalikan," kata Irjen Anton di Jakarta, Selasa 5 April 2016.

Menurut Anton, pemberian uang itu tak lebih sebagai bentuk kemanusiaan dan belasungkawa dari polisi atas tewasnya Siyono ketika dicokok tim Densus 88. "Yang meninggal dunia kami berikan santunan sekali pun itu teroris, walau meninggal dalam baku tembak kami berikan (uang santunan) juga," kata dia.

Terlepas dari polemik 'uang damai' tersebut, Anton Charliyan menyesal atas kematian terduga teroris asal Klaten tersebut. Sebab, Siyono disebut-sebut menjadi saksi kunci dalam pengungkapan jaringan teroris di Indonesia.

Siyono dianggap mengetahui gudang senjata yang digunakan untuk melakukan aksi terorisme.

"SY (Siyono) itu adalah kepala gudang senjata. Ini atas keterangan tiga saksi yang telah ditangkap sebelumnya. Dalam teori Kepolisian, SY itu saksi kunci. Dia yang tahu di mana lokasi senjata yang mungkin mencapai puluhan atau ratusan itu," ujar Anton.

Kepolisian lanjut Anton, akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada anggota Densus 88 yang membawa Siyono saat penangkapan lalu. Meski begitu, Anton kematian Siyono karena ditembak anggota Densus 88. "Kami akan usut kelalaian anggota. Ini sangat disayangkan," tegas Anton.

[Baca: ]