Mengusut Tindakan Densus di Kematian Siyono
- VIVAnews/Fajar Sodiq
Jurus mabuk polisi
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menyesalkan pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan, yang menyebut pihak yang mendukung autopsi Siyono sebagai pro teroris. Menurut Muhadjir, tidak seharusnya Anton Charliyan sebagai juru bicara Polri mengeluarkan pernyataan itu.
"Menurut saya, pernyataan kadiv itu tidak bijak. Menunjukkan arogansi sebagai aparat. seolah-olah aparat itu tidak perlu dikoreksi tindakannya. Seolah-olah aparat tidak melakukan malpraktik, suatu yang tidak bijak," ujar Muhadjir, kepada VIVA.co.id, Rabu 6 April 2016.
Muhadjir mengatakan, sebelumnya PPMuhammadiyah sudah bertemu dengan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. Kapolri justru mendukung upaya yang dilakukan oleh Muhammadiyah itu. Tetapi, lanjut Muhadjir, pernyataan Anton justru bertolak belakang dengan Kapolri.
"Semestinya, Kepolisian berterima kasih kepada Muhammadiyah," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.
Terkait tudingan bahwa yang mendukung Siyono adalah pro teroris, Muhadjir menilai itu tidak ditujukan ke Muhammadiyah. Sebab, dalam pertemuan dengan Kapolri, Muhammadiyah menjelaskan posisinya mendorong autopsi jenazah Siyono, yang tewas di tangan Densus 88 antiteror Mabes Polri, sebelum diproses hukum.
"Muhammadiyah sudah menjelaskan (kepada Kapolri) posisi terkait kasus Siyono. Kita tidak mencampuri, kita juga tidak ada urusan dengan tuduhan sebagai teroris, tapi kita betul-betul alasan meluruskan kebenaran dan kepentingan keberpihakan pada kemanusiaan. Apalagi, Siyono bukan anggota Muhammadiyah," ujarnya menjelaskan.
Lebih dari itu, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai pernyataan Kadiv Humas Polri, Irjen Anton Charliyan justru sebagai bentuk teror kepada masyarakat. "Pernyataan Kadiv Humas itu penuh dengan teror untuk membungkam usaha masyarakat sipil untuk menemukan fakta," ujar Dahnil, kepada VIVA.co.id, Rabu 6 April 2016.
Dahnil menilai, munculnya pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri itu tidak lebih sebagai akrobat opini semata. Yakni dengan menuduh pihak-pihak tanpa dasar dan fakta yang jelas. "Panik ketika ada fakta yang mampu dibuka oleh kelompok masyarakat tentang apa yang sesungguhnya terjadi," katanya menambahkan.
Menurut dia, tudingan ini juga sebagai kedangkalan bernalar Anton. Menurutnya, ada upaya yang dilakukan untuk mengarahkan opini publik dengan medelegitimasi para pihak yang berusaha mengungkap fakta sesungguhnya.
"Padahal sikap Kapolri Jenderal Badrodin Haiti justru sangat arif membuka dan mempersilahkan mengungkap fakta yang sesungguhnya melalui otopsi tetapi Kadiv Humas justru menggunakan jurus mabuk dan jurus panik dengan menuduh semua pihak yang membela Siyono teroris," ujar President Religion for Peace Asia and Pacific Youth Interfaith Network (RfP-APYIN) ini.