Kapal Pinisi, Diantara Bangkit dan Dilupakan

Kapal Pinisi
Sumber :
  • U-Report

Tidak adanya perhatian khusus ini tercermin dari kondisi para pekerja Pinisi serta tempat pembuatan yang mulai tidak terawat. Fasilitas yang kurang memadai menjadi masalah yang paling krusial. Ditambah sekarang para punggawa sangat susah mendapatkan kayu untuk pembuatan perahu. Kondisi ini diperparah dengan munculnya anggapan-anggapan dari warga Desa Ara (kampung para pembuat Pinisi) yang mulai menyarankan pada anak-anaknya untuk merantau atau bekerja sebagai PNS, dikarenakan profesi mereka sebagai pengrajin sudah tidak lagi menjanjikan.

Karena anggapan ini, bisa saja 30 tahun nanti sudah tidak ada lagi pekerja Pinisi. Masalah di atas tidak pernah diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Mereka hanya sering menjual kebesaran nama Pinisi dan gambar Pinisi untuk menghasilkan devisa. "Mending jadi PNS, ukur gordeng (usaha gorden), atau berdagang daripada jadi pajama lopi (tukang perahu dalam bahasa Konjo)," ujar Dg. Emba, salah satu warga Desa Ara yang sejak 30 tahun lalu menggeluti pekerjaan perahu Pinisi.

Pinisi yang terlanjur menjadi kebanggan bersama, idealnya harus berimbas kepada pengrajinnya. Saat ini, di tengah regulasi yang makin tumpang tindih, dibutuhkan kerja keras untuk menatanya apabila kita mau melihat Pinisi itu dapat disaksikan juga oleh generasi mendatang.

"Tidak bisa dipungkiri, saat ini karya budaya Pinisi seperti bangkit dan dilupakan dimana keberadaannya akan terancam bila para pekerjanya beralih profesi. Cara yang bagus adalah dengan melobi kantor terkait untuk membuat regulasi yang mempermudah pengangkutan material yang berhubungan dengan pembuatan Pinisi. Walau hal ini nampaknya susah, tapi kalau memang Pemerintah berkehendak atau memiliki kepedulian, maka nampaknya hal itu mudah," ujar Budayawan Bulukumba, Drs. Muhannis.

Penulis novel berbahas Makassar "Karruq Ri Bantilang Pinisiā€ ini mengungkapkan selain penataan regulasi, hal penting lain adalah menata lembaga pemesanan perahu melalui satu lembaga saja. Kalau Pemerintah mampu menata lembaga ini sebagai lembaga profesional yang didukung dengan kompetensi pengrajinnya yang mumpuni. Selama ini, para tukang dan punggawa sendiri yang berjuang mencari pemesan dan kalau perlu memboyong anak dan isteri untuk tinggal dirantau orang demi kelangsungan dapur rumah tangga.