Arti Seorang Ibu Untukku

Ibu memuji anak.
Sumber :
  • pixabay/adinavoicu

VIVA.co.id – Ibu. Tiga huruf sangat sederhana namun memiliki arti yang sangat luar biasa. Ibuku adalah sosok wanita yang hebat dan kuat. Di mataku tidak ada wanita yang luar biasa. Terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat luar biasa menjadi hal yang paling aku banggakan. Apalagi menjadi anak bungsu dari ibuku. Itu merupakan poin plus dalam hidupku.

Tidak ada kata lelah dalam kamus kehidupan ibuku. Ia selalu berjuang untukku dan saudaraku. Berjuang mendapatkan rupiah untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Berjuang untuk menahan rindu kepada anak-anaknya yang setiap hari dirasakan. Aku tahu bukan hal yang mudah menjadi seorang ibu, apalagi harus mengurus anak sepertiku, anak yang banyak maunya.

Meskipun dia sosok wanita yang tegas dan berani, ia tidak pernah mengeluh ataupun marah jika aku meminta sesuatu kepadanya, walaupun terkadang aku memaksa. Jika aku marah karena keinginanku tidak dipenuhi, aku tahu ibu sedih. Namun dengan lembut ia akan merayuku dan memberiku nasihat, “Kamu belum butuh yang seperti itu, nanti kalau sudah saatnya pasti dibelikan,” Dan benar, ia membelinya. Ia tidak pernah ingkar janji ataupun berbohong kepadaku baik dalam hal kecil maupun hal yang besar.

Seringkali aku merasa cemburu melihat teman-temanku yang setiap hari memiliki kesempatan untuk melihat dan memeluk ibunya. Namun aku hanya bisa mendengar suara ibuku. Itu juga jika ibu dan aku sama-sama memiliki waktu luang. Menjadi anak rantau bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi hidup di ibukota yang kata orang lebih kejam daripada ibu tiri.

Aku jauh dari orang tua dan hanya memiliki kesempatan bertemu langsung setahun sekali. Itu juga hanya dalam waktu yang singkat. Apalagi jika aku akan kembali ke ibukota untuk melanjutkan studiku. Aku tahu ia sedih, namun tetap berusaha tegar. Senyum indah terpancar di wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya. Namun hal itulah yang membuatku semakin sedih saat aku harus kembali ke ibukota.

Sepertinya aku harus berpisah lagi dengan wanita hebat ini dalam jangka waktu yang panjang. Alasanku tetep bertahan dan kuat dalam menjalankan studiku di ibukota ini adalah karena ibuku. Aku tidak ingin melihat kekecewaan dalam wajah cantiknya. Aku selalu berusaha untuk membuatnya bahagia.

Walaupun aku tidak memiliki prestasi yang sangat baik dalam studiku, tapi setidaknya aku tidak membuatnya malu dan menyesal telah melahirkan dan membesarkanku. Bagaimanapun keadaan ibuku saat ia tua nanti, aku akan selalu menyayanginya sepenuh hatiku. Karena aku sangat mencintai ibu. (Tulisan ini dikirim oleh Kristinsipahutar, Jakarta)