Mendukung Investasi Industri Film Indonesia melalui Film Nasional

Pemeran film Dilan 1991.
Sumber :
  • VIVA/Laras

VIVA – Untuk mendukung investasi industri perfilman Indonesia, diharapkan perfilman nasional dapat tumbuh. Kabar baiknya, pertumbuhan industri film Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah produksi film dalam negeri dan jumlah penonton. 

Ya, memang belum Hollywood, tapi bukan tidak mungkin Indonesia bisa mendominasi kancah film besar Asia berikutnya. Semakin banyak bioskop lokal dan pemilik produksi yang mempublikasikan perusahaan mereka, yang meningkatkan peluang investasi industri film Indonesia.

Sejarah industri film Indonesia

Di Indonesia, film sudah diproduksi sejak tahun 1920-an. Namun, upaya awal tidak disukai oleh penonton lokal karena pelarangan produksi film oleh penjajah Jepang selama Perang Dunia II. 

Di tahun-tahun berikutnya, hanya film yang diizinkan oleh pemerintah yang berhasil diputar. Akibatnya, kebanyakan film Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an tidak memiliki inspirasi dan dogmatis. 

Baru kemudian pada 1980-an, industri film Indonesia mulai merilis film-film sukses.Pada tahun 1988, film Indonesia berjudul “Tjoet Nja 'Dhien” menjadi film Indonesia pertama yang diputar di Festival Film Cannes. 

Ketika industri film Indonesia mulai berkembang, sangat disayangkan bahwa pembuatan film independen kembali runtuh pada tahun 1900-an dan awal 2000-an. 

Namun industri film Indonesia kembali bergejolak dengan beberapa film yang sangat populer seperti “Laskar Pelangi” (2008), film tentang perjuangan 10 anak sekolah miskin di pedesaan misalnya. 

Efek dari pencabutan pembatasan terhadap investasi asing

Pada 2015, Presiden Indonesia Joko Widodo mendeklarasikan inisiatif untuk meningkatkan “ekonomi kreatif” Indonesia dan sejak itu mencabut pembatasan investasi asing dalam produksi film lokal. 

Inisiatif ini mengarahkan beberapa perusahaan internasional untuk berinvestasi dalam produksi film Indonesia, mulai dari Lotte Cinema Co. Ltd. Korea Selatan hingga Twentieth Century Fox di Hollywood. 

Kemudian di tahun 2018 ini, "Wiro Sableng 212" menjadi kolaborasi pertama antara Fox dengan rumah produksi lokal.

Kolaborasi ini menunjukkan hasil yang memuaskan karena menghasilkan $ 3 juta yang terhormat di box office. Namun, tidak pasti apakah atau kapan Fox akan mengerjakan proyek lain di Indonesia. 

Yang jelas film-film nasional Indonesia terus beredar dan semakin menyedot perhatian penonton. Misalnya, “Dilan”, sebuah film romantis remaja, mampu menyedot hingga 6,3 juta penonton, dan sukses bertahan di layar bioskop selama lebih dari sebulan.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.