Gejolak Harga Naik, Ancaman Meningkatnya Kemiskinan

Penulis saat sebelum menghadiri gelaran diskusi pemuda dan kemandirian ekonomi. Tebet, Jakarta Selatan.
Sumber :
  • vstory

VIVA  – Tidak bisa kita ragukan lagi bahwa laju permintaan akan pangan adalah suatu tantangan yang sangat penting diperhitungkan. Perkiraan mutakhir dari PBB menunjukkan bahwa jumlah penduduk dunia akan mencapai 9,3 miliar jiwa pada 2050. Kita sebenarnya saat ini sudah mampu menanam tanaman pangan dalam jumlah yang cukup untuk memberi makan 9,3 miliar penduduk dunia.

Masalahnya adalah ketersediaan lahan yang telah banyak dijadikan gedung bangunan pabrik serta masih terlalu banyak yang terbuang percuma dan lebih banyak lagi yang diubah menjadi pakan ternak dan bahan bakar hayati.

Inilah sebab mengapa sangat mengejutkan ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa masih ada sekitar 870 juta penduduk dunia yang masih menderita kelaparan dan bahkan angka tersebut pada 2021 kemarin naik signifikan. Masih ada banyak bahan pangan yang terserak dimana-mana, tetapi juga masih ada ratusan juta orang miskin di seluruh dunia yang tidak memiliki daya beli untuk memperolehnya.

Sebagai negara agraris Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnya sebagian masyarakatnya menjadikan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian bahan pokok untuk menghidupi keluarganya sehari-hari. Merosotnya pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan pandemi membuat harga-harga pokok rumah tangga naik dari hari ke hari. Sebagai dasar pokok keberlangsungan hidup masyarakat pangan menjadi penting dalam setiap kehidupan manusia dan hak asasi manusia.

Ketidakstabilan ekonomi akibat pandemi, membuat ketersedian pangan yang kecil dari kebutuhan masyarakat, dapat menimbulkan kenaikan harga bahan-bahan pokok rumah tangga, karena pangan sangat memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat. Fluktuasinya harga bahan pokok pangan, menyebabkan ketidak pastian harga bahan pokok diakhir-akhir ini.

Kondisi alam juga menjadi masalah yang tidak dapat dihindari, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini perubahan iklim begitu cepat berganti dan menjadi tantangan tersendiri untuk kita masyarakat. Olehnya ini sangat mempengaruhi setiap aktivitas kita manusia dan alam semesta. Volatilitas harga pangan pasca pandemi harusnya menjadi perhatian lebih serius oleh pemerintah, dikarenakan pangan merupakan komoditas yang mudah menguap serta penyumbang inflasi yang besar.

Memang mengkhawatirkan jika pergerakan inflasi mengarah pada peningkatan dengan mempengaruhi stabilitas perekonomian kita di Indonesia. Tingginya permintaan masyarakat terhadap pangan menyebabkan fluktuasi harga dan berdampak pada kelangkaan pasokan pangan. Dinamika harga komoditas pangan Indonesia meliputi yakni, beras, minyak goreng, telur ayam, cabai merah, bawang merah, dan daging ayam memberikan gambaran harga yang berbeda.

Kenaikan harga tersebut bukan hanya terjadi pasca pandemi ini, sebelum pandemi covid-19 telah terjadi fluktuasinya harga pangan dan meningkat lebih harga pangan pasca pandemi. Umumnya masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata atau masyarakat menengah ke bawah cenderung lebih banyak mengkonsumsi bahan pokok yang bersumber karbohidrat dan mengurangi makanan yang mempunyai kualitas harga mahal dan berprotein serta bergizi tinggi.

Sementara itu di tahun 2020 kemari pada bulan April sampai dengan Mei permintaan beras meningkat signifikan sementara musim panen. Hal ini lah yang menyebabkan harga pangan mengalami kenaikan signifikan. Fokus dalam agenda kerja-kerja pemerintah harusnya lebih memperhatikan kenaikan harga pangan saat ini, sebagaimana pemerintah harus mengatasi kenaikan harga tersebut. Hal ini sangatlah penting untuk masyarakat menengah ke bawah, mengapa demikian, stabilnya harga pangan sama dengan melindungi masyarakat miskin dan mendorong kepentingan petani yang rentan terhadap ketidak pastian harga.

Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris, sungguh sangat ironis jika pemerintah pusat dan daerah tidak fokus mengurusi peningkatan produksi pangan dan nilai jual yang tinggi terhadap pasar nasional serta internasional. Paling parahnya lagi adalah yang dirasakan masyarakat miskin, penderitaan yang berkepanjangan karena kelaparan dan tidak mampu membeli makanan yang harganya di atas rata-rata mahal dari pendapatan sehari-hari mereka.

Kelaparan adalah ancaman yang paling menakutkan bagi anak-anak dari golongan masyarakat miskin yang sedang bertumbuh dengan selalu diberikan vitamin, gizi dan protein yang cukup. Sementara orang tua mereka tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memberi mereka gizi apa lagi sampai menyekolahkan anak-anaknya, dan masih banyak lagi dampak yang negatif akibat kenaikan harga pangan yang menjadi bahan pokok rumah tangga masyarakat Indonesia.

Mau tidak mau masyarakat dipaksakan untuk membeli harga yang mahal, karena yang penting bagi mereka adalah kebutuhan terpenuhi untuk keluarga mereka khususnya anak-anak mereka. Sedih rasanya melihat kondisi ini terjadi yang sangat sekali berdampak pada masyarakat miskin. Jika harga pangan naik semua akan terdampak pada bahan-bahan pokok lainnya terutama minyak goreng dan minyak bahan bakar.

Gejolak harga naik masyarakat menderita dalam kemiskinan, belum lagi RKUHP telah sah menjadi UU yang nantinya di tiga tahun akan datang 2025 akan aktif digunakan dan sangat berdampak pada seluruh masyarakat kita di Indonesia serta mengancam demokrasi kita. Sementara itu angka kemiskinan di tahun 2020 kemarin dalam data BPS, mengalami kenaikan sebesar 27.55 juta penduduk miskin, dan meningkatnya angka pengangguran di tahun 2022 sebesar 8.40 juta pengangguran belum lagi harga kebutuhan pokok yang semakin naik dan semakin menjadi-jadi di Indonesia.

Masyarakat hanya bisa protes atas kenaikan harga tanpa ada sikap yang jelas ditunjukkan kepada pemerintah. Ketidakmampuan inilah menyebabkan masyarakat takut dan bingung menentukan hak-hak mereka sebagai warga negara dan pemerintah harus berkewajiban dalam kehidupan sosial seperti yang disuarakan dalam cita-cita kemerdekaan Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi kita. Masyarakat miskin, pengangguran dan para pekerja hanya bisa menerima dengan berat hati atas kenaikan harga bahan pokok, dan bahan bakar minyak sehingga mereka tidak tahu mau berbuat apa lagi.

Terakhir, kita tidak bisa lagi terus mengabaikan hal seperti ini terjadi. Mengabaikan harga pokok kebutuhan rumah tangga terus mengalami kenaikan secara sewenang-wenang dan semau-maunya tanpa ada keputusan regulasi yang diatur. Masyarakat hanya akan terus menjadi korban percobaan regulasi, regulasi yang melindungi segenap warga negara malah membebani mereka dengan kenaikan harga yang secara tiba-tiba.

Kenaikan harga secara terus-menerus akan merepotkan masyarakat, kepanikan masyarakat dan bahkan membuat mereka menemukan kebuntuan. Saat ini yang kita rasakan bersama setiap tahunnya harga terus naik sering dengan kenaikan upah minimum. Selamatkan Indonesia dari keterpurukan ini.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.