Indonesia Defisit Film Anak-anak
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Betul. Ada komunikasi dan dialog. Jadi gak cuma potong-potong saja. Dialog dan nuansa seperti itu yang sekarang kita terapkan. Lebih interaktif dan saya merasakan cukup positif hasilnya. Karena, menurut Mendikbud, LSF ini kan harus jadi mercusuar. Rakyat memperoleh tontonan yang bagus. Namun di sisi lain kita tetap mendorong industri film untuk terus berkembang tanpa harus merasa terpasung.
Apa saja yang menjadi ranah LSF untuk disensor?
Hampir semua yang ditayangkan kepada publik, kecuali berita, pada dasarnya harus disensor di sini. Jadi, iklan, film, audio visual, kemudian sinetron, talkshow, kecuali yang live pada dasarnya harus lewat sini.
Apa pertimbangan LSF saat menyensor sebuah film atau tayangan lain?
Kita tentu berangkat dari aturan yang ada. Penyensoran itu meliputi isi film dan iklan film dari segi kekerasannya, aspek perjudian, narkoba. Itu aspek-aspek yang dilihat. Pornografi, sensitifitas yang menyangkut ras, suku, kelompok,agama, golongan. Dari sisi hukum, dari sisi harkat dan martabat manusia, dan tentunya juga dari segi usia penonton.
Apakah ada perbedaan antara menyensor film asing dengan film dalam negeri?
Pada dasarnya tidak ada. Tetapi ketika kita lihat film Indonesia kita mempunyai pertimbangan-pertimbangan dari segi aspek kultur, struktur. Kalau film asing yang penting secara aspek kaidah sinematografinya pas, ya sudah. Tapi kalau film Indonesia tentu kita mencermatinya dari berbagai macam aspek.
Bagaimana dengan sensor film untuk anak-anak?
Kalau di sini anak-anak itu masuk kelompok semua umur. Artinya, film itu dibuat dan ditujukan untuk penonton semua umur. Kedua, baik tema, judul, adegan visual, dialog atau monolognya sesuai dengan usia dan tidak merugikan perkembangan dan kesehatan fisik maupun jiwa anak. Jadi, anak-anak harus dilindungi. Jadi yang melampaui batas dan kepatutan dan tidak mendidik, itu kita batasi.
Kemudian juga mengandung unsur pendidikan, budaya budi pekerti, hiburan juga hiburan yang sehat, berupa apresiasi terhadap estetika, dan mendorong rasa ingin tahu terhadap lingkungan.
Apakah banyak sineas yang membuat film anak-anak?