Indonesia Defisit Film Anak-anak
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Ada usulan agar LSF dibubarkan. Tanggapan Anda?
Saya menghargai berbagai pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Ada pendapat yang menganggap LSF tidak perlu.
Tapi juga tidak sedikit yang mengatakan LSF perlu. Karena, masih ada LSF saja kita bisa kebobolan apalagi nggak ada.
Menurut saya keberadaan LSF tetap perlu untuk menyaring film yang beredar di masyarakat. Minimal, LSF bisa menginformasikan kepada masyarakat terkait keberadaan sebuah film. Kalau istilah makanan itu ada yang halal ada yang haram.
LSF merupakan bagian dari komitmen pemerintah dan negara ini terkait pentingnya menyelamatkan masyarakat dari dampak negatif film, yang setiap hari dikeluhkan masyarakat. Kedua, komitmen terhadap LSF merupakan bagian dari upaya untuk mendorong berkembangnya kreatifitas.
Tetapi, kreatifitas yang mempunyai nilai-nilai yang berdampak positif terhadap masyarakat dan tidak mengurangi perkembangan kreatifitas.
LSF juga dikritik karena kinerjanya dinilai tak jelas?
Kekurangan di masa lalu tentu akan menjadi pencermatan bagi kami. Dan tentu kami yang ada ini bertekad selalu berbuat yang lebih baik. Kami sangat senang kalau masukan-masukan itu disampaikan kepada kami dan kami tentu akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki.
Ada yang menuding LSF ini seperti lembaga pungli, sedikit-sedikit bayar. Tanggapan Anda?
Kalau ada hal semacam itu saya yakin itu penyimpangan yang bersifat pribadi, bukan kebijakan lembaga. Saya kira memang ada biaya yang harus dikeluarkan untuk pengurusan sensor film, tapi itu ada aturannya dan jelas rinciannya.
Tetapi kalau lebih dari itu, pastilah itu penyimpangan. Dan itu yang harus kita luruskan. Insya Allah ke depan itu nanti akan kita atasi dengan adanya loket-loket. Sudah ada program ke situ.
Apa program Anda selama empat tahun ke depan?
Kita sama-sama ingin maju. Antara yang membuat film dengan yang menyensor dan kehendak masyarakat sama. Itu yang membuat saya ingin selalu melakukan dialog.
Dan itu sudah kita mulai dengan orang-orang yang punya film. Karena, kami tidak ingin menyensor tetapi mematikan kreatifitas, atau jangan sampai kita mengganggu kaidah-kaidah sinematografi.