Indonesia Defisit Film Anak-anak
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Prosentase film anak-anak itu kecil. Yang banyak itu remaja, dewasa yang paling banyak 21 tahun ke atas. Kita prihatin sebetulnya. Alasannya membuat film anak biayanya mahal dan tak laku di bioskop. Di televisi juga tidak mengangkat rating. Kita defisit film anak. Akhirnya yang ditonton ya film-film untuk dewasa.
Sejumlah kalangan menilai, maraknya kasus kekerasan anak dipicu oleh tontonan yang berbau kekerasan. Tanggapan Anda?
Sebetulnya kalau film itu betul-betul film anak, proses itu sudah kita lakukan. Namun, seringkali anak-anak melakukan kekerasan karena meniru adegan film remaja atau orang dewasa.
Terus kalau dipersoalkan kok begitu diloloskan, ya memang itu bukan film untuk anak-anak. Kadang-kadang masyarakat tidak peduli atau memang tidak tahu dengan persoalan ini. Self censorship atau sensor mandiri itu gak ada.
Bagaimana dengan film kartun yang mengandung kekerasan?
Saya tidak tahu satu per satunya. Tapi banyak juga film kartun yang memang bukan untuk anak-anak. Naruto misalnya, itu untuk remaja.
Bagaimana agar masyarakat mengetahui klasifikasi sebuah film?
Di tiap film kan kita kasih keterangan. Misalnya, Remaja, BO (Bimbingan Orangtua). Persoalannya kadang masyarakat tak disiplin. Sama dengan bioskop. Misalnya film untuk 17 tahun, yang nonton kan gak semuanya 17 tahun.
Persoalan ini juga yang jadi tugas LSF. Di samping menyensor, kita juga punya tugas sosialisasi, memberdayakan masyarakat untuk menjadikan masyarakat yang mampu melakukan self censorship.
Lalu apa yang akan LSF lakukan?
Ke depan kita ingin gelorakan semua film tayangan ada kriterianya, ada batasan umurnya, ada jam tayangnya. Setiap orang harus memperhatikan itu.
Bagaimana penerapannya?
Kami mempunyai program untuk mensosialisasikan hal itu. Kami selalu mengajak teman-teman yang lain, stakeholder yang lain, kekuatan yang lain, untuk menggelorakan itu.
Karena itu penting. Kita sadar sekali keluhan masyarakat film sudah menjadi ancaman. Tetapi kita juga harus tahu bahwa di Indonesia ada masyarakat perfilman dan mereka juga cukup berjasa menggelorakan budaya Indonesia di luar negeri.
Jadi kita tak boleh mengatakan film tidak penting. Film penting, tapi bagaimana membuat film yang bermakna.