Sains di Balik Segitiga Bermuda yang Misterius

Ilustrasi Segitiga Bermuda
Sumber :
  • Google Maps

"Segitiga Bermuda merupakan wilayah terbang paling padat di dunia. Banyak kapal dan pesawat yang melintasi wilayah itu sehingga tidak jarang terjadi kecelakaan," papar Rosenberg.

img_title Kenapa Saat Purnama Kejahatan Meningkat

Cuaca Ekstrem

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fakta lainnya juga disebutkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Menurut ilmuwan di departemen tersebut, Segitiga Bermuda sering dihiasi cuaca ekstrem, baik badai tropis maupun angin topan. Pesawat dan kapal di zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang, yang lebih siap dengan perubahan cuaca ekstrim dan tiba-tiba. Bahkan pesawat zaman sekarang kerap dibantu dengan prediksi cuaca yang akurat.

img_title Serius, Tumbuhan 'Berteriak' Saat Terancam Musuh

Cuaca ekstrem yang paling sering terjadi adalah badai dan petir bernama meso-meteorological, yang bisa muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Badai ini mampu mengacaukan sinyal komunikasi kapal dan menciptakan berbagai gelombang. Jika kecelakaan terjadi, hiu dan barakuda di Segitiga Bermuda mampu menghilangkan 'barang bukti'.

"Laut selalu menjadi tempat misterius bagi manusia. Jika cuaca dan navigasi tidak mendukung maka akan menjadi tempat yang paling berbahaya. Tidak ada bukti terkait kehilangan misterius yang terjadi di Segitiga Bermuda. Semua karena wilayah ini merupakan lintasan penerbangan terpadat," tulis NOAA.

img_title Durasi Tidur Era Kini Lebih Lama dari 1970-an, Gara-gara Komputer?

Senyawa Methane

Pada Maret 2015, peneliti menemukan koleksi kawah di Laut Barents, lepas pantai Norwegia. Dikatakan jika kawah itu muncul karena ledakan senyawa metana pada akhir zaman es, atau sekitar 11.700 tahun lalu. Senyawa metana ini pun kemudian dikaitkan dengan Segitiga Bermuda. Senyawa ini bisa menyebabkan lubang hisap atau membentuk gelembung gas yang dengan cepat dapat menonaktfikan sistem kapal kemudian menenggelamkannya.

Namun menurut geofisikawan dari U.S. Geological Survey (USGS), Carolyn Ruppel, hal ini merupakan hal yang mustahil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kebanyakan metana yang ada di dalam laut saat ini telah diproses oleh mikroba menjadi karbon dioksida. Tidak mungkin gas metana keluar utuh ke permukaan laut karena telah lebih dulu berubah menjadi karbon dioksida. Jadi jangan berharap adanya malapetaka terjadi dalam beberapa abad ke depan," ujar Ruppel.

(mus)

Ilustrasi dokter/rumah sakit.

Dokter Indonesia Dapat Kesempatan Berkarier di Korea

Para profesional medis atau dokter mendapat peluang untuk menjajaki karier di Korea dan Indonesia. Posisi yang terbuka mencakup tiga aspek industri perawatan kesehatan.

img_title
VIVA.co.id
4 Oktober 2023
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut