Penyebab Produktivitas Petani Kentang Rendah
- U-Report
Berbeda dengan Eropa dan Amerika Serikat, yang memiliki musim dingin, sehingga penyakit tanaman kentang tidak terlalu banyak, Indonesia dengan iklim tropis memungkinkan munculnya berbagai penyakit.
“Sedangkan keuntungannya dengan iklim seperti Indonesia, usia panen lebih cepat 100 hari, sedangkan di Eropa dan AS bisa 120 hari,” jelas Wattimena.
Menurutnya, perbedaan juga pada kondisi tanah, kalau di luar negeri tidak pernah diberikan pupuk kandang cukup pupuk buatan (NPK) saja, tetapi di Indonesia pemberian pupuk kandang wajib. “Kemudian, tanaman kentang juga baru dapat tumbuh di dataran tinggi, atau iklim dengan suhu 20 derajat celcius,” ujar dia.
Kentang di Indonesia ada dua yang dikenal, yakni Granola dan Atlantik. Granola biasanya untuk dibuat keripik, sedangkan Atlantik biasanya dibuat kentang goreng (fried fries). “Atlantik di Indonesia, memilik kelemahan, yakni rentan terkena penyakit layu,” jelas Wattimena.
Wattimena mengatakan, kelemahan dalam melakukan karantina tanaman dari luar membuat munculnya berbagai penyakit pada tanaman kentang. Bahkan, ada salah satu daerah di Jawa Tengah yang sampai sekarang tidak bisa memproduksi kentang lagi akibat penyakit.
Dia melanjutkan, Kementerian Pertanian harus secepatnya menciptakan generasi baru bibit kentang yang tahan terhadap penyakit.
Ia yakin, kalau produktivitas tanaman kentang dilihat dari jangka waktu bukan luasan area, maka Indonesia sebenarnya dapat lebih baik. "Ukurannya bukan ton per hektare, tetapi ton per bulan karena panen kita lebih cepat," ujar Wattimena. (ase)