Perhatikan Hal Ini Sebelum Beli Rumah Murah

ilustrasi rumah subsidi.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Risky Andrianto

VIVA.co.id – Memiliki rumah layak huni dengan harga yang relatif terjangkau menjadi impian semua orang, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di sisi lain, pemerintah telah menawarkan berbagai proyek perumahan, yang memudahkan masyarakat mendapatkan rumah layak huni.

img_title Wamen PKP Fahri Hamzah Soroti Tanah Jadi Biang Kerok Harga Rumah Mahal

Proyek perumahan rumah dengan uang muka satu persen yang tersebar di berbagai wilayah, menjadi salah satu contohnya. Bagi masyarakat yang memiliki penghasilan di bawah Rp4 juta per bulan, dan belum memanfaatkan rumah subsidi, sudah bisa mendapatkan rumah layak huni.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, rumah layak huni dengan harga yang terjangkau tak melulu sesuai harapan masyarakat. Padahal, standar minimum pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah telah ditetapkan dalam aturan yang jelas dan terperinci.

img_title BRI Info Lelang Beri 6 Rekomendasi Rumah Murah di Jabodetabek

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengakui, tak jarang ada program rumah murah yang menggunakan pengembang-pengembang tak kredibel. Maka dari itu, masyarakat pun tetap harus mencermati berbagai hal, sebelum membeli rumah murah.

“Jadi pertama itu soal izin. Konsumen harus waspada, dengan menanyakan langsung kepada pengembang itu apakah sudah ada zin atau belum. Karena ini penting sekali,” kata Ali, saat berbincang dengan VIVA.co.id, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.

img_title Tips Cara Memilih Ubin Granit yang Tepat

Selain itu, dari sisi ketersediaan lahan pembangunan. Menurut Ali, meskipun rumah murah merupakan bagian dari program pemerintah, namun konsumen wajib memastikan lahan dari rumah yang akan dibelii sudah bebas, dan tidak ada masalah.

“Kalau IMB (Izin Mendirikan Bangunan) itu memang butuh waktu. Tapi kalau lahan, ada yang mereka jual tapi lahannya belum bebas. Ini perlu diperhatikan. Kemudian, dia kerja sama dengan bank mana. Karena kalau kerja sama dengan bank, pasti sudah ada agunan,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Satu hal yang paling penting, kata Ali, adalah memastikan asal usul dari pengembang yang sudah dipercayakan. Menurutnya, pengembang-pengembang “nakal” tidak hanya berada pada program rumah murah, melainkan juga pada proyek-proyek besar.

“Dipastikan dia berasal dari mana. Apakah anggota REI (Real Estate Indonesia) atau Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan Permukiman). Sehingga kalau ada masalah, bisa langsung minta perlindungan,” ujarnya. (one)

Perang Ukraina vs Rusia.

Warisan Uni Soviet Jadi Titik Lemah Ukraina di Musim Dingin

Kota-kota di seluruh Uni Soviet, termasuk Ukraina, jadi fokus program pembangunan besar-besaran yang diluncurkan pada 1950-an untuk memproduksi rumah murah secara massal.

img_title
VIVA.co.id
26 Januari 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut