Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
VIVA.co.id – Nama Ahmad Fuadi langsung meroket, sejak meluncurkan trilogi Negeri Lima Menara. Negeri Lima Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara membuat namanya melambung. Nama mantan jurnalis Tempo ini langsung masuk jajaran novelis papan atas. Apalagi, setelah salah satu novelnya difilmkan.
Setelah sukses dengan trilogi Negeri Lima Menara, kini jebolan Universitas Padjajaran Bandung ini merilis novel barunya berjudul Anak Rantau. Fuadi mengatakan, butuh waktu lama untuk menulis dan menyelesaikan novel ini. Mantan wartawan Voice of America ini juga mengaku butuh waktu sekitar tiga tahun untuk merampungkan novel terbarunya tersebut.
Penerima sejumlah beasiswa ini mengatakan, dia tak memilki latar belakang sastra. Tak hanya itu, pria kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 30 Desember 1973 ini, bahkan mengaku tak suka membaca buku sastra. Saat berkunjung ke VIVA.co.id, ia buka kartu. Ia menulis novel atas dorongan istrinya.
Lalu, bagaimana sebenarnya proses kreatif dari pria yang hangat dan ramah ini? Demikian, penuturan Penulis Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia pada 2011 ini:
Apa yang membuat Anda tertarik menulis novel?
Saya sebenarnya tidak banyak membaca novel. Saya memang pernah membaca buku Lima Sekawan. Tetapi, bukan penggila novel.
Kok bisa nulis trilogi Negeri Lima Menara?
Waktu saya habis dari Gontor, di Jakarta, saya menikah dengan gadis yang besar di Jakarta, berlatar belakang Jawa dan Minang. Dia anak metropolitan. Kalau ngobrol dengan dia, saya bilang, kamu itu enggak tahu tentang pesantren, tentang desa.
Saya cerita, di pondok, kita kalau ngelindur pakai bahasa Arab, bahasa Inggris. Dia ketawa dan enggak percaya. Lama-lama dia bilang, ini kan kisah menarik dan inspiring. Enggak banyak yang tahu apa isi pesantren. Selama ini, yang muncul dalam berita hanya teroris. Tetapi, pendidikan di pesantren enggak pernah orang luar yang tahu. Dia minta saya menuliskan.
Lalu?
Saya mikir, kalau ditulisin jadi apa ya? Jadi reportase, atau jadi apa? Kalau reportase kepanjangan. Kenap enggak novel aja. Kebetulan waktu itu mas Andrea Hirata lagi cerita pendidikan di Belitung dan membukakan mata orang. Kalau gitu, boleh juga saya bikin novel yang menceritakan pendidikan di pesantren.