Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto

RI Mampu Olah Nuklir, Tapi Bukan untuk Senjata

Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Kita juga melakukan pengeboran untuk mengecek dan mengukur mengenai adanya potensi gempa. Aman atau tidak daerahnya.

img_title Di Depan Prabowo, Putin: Rusia Siap Bantu Indonesia Kembangkan Energi Nuklir

Wilayah yang sudah dilakukan pra-FS antara lain Kalimantan Barat dan Timur, Batam, dan mungkin, tahun ini di NTB.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Program reaktor daya eksperimental (RDE) sendiri seperti apa?

img_title Malaysia Rencanakan Pemanfaatan Energi Nuklir dalam 10–15 Tahun ke Depan

seperti yang kita sudah lakukan tanggal 28 September kemarin, kita meluncurkan basic engineering design. Artinya, kelak kalau kita mau bangun RDE ada konten desain.

Ini adalah karya anak bangsa, dan cara inilah yang kita tempuh. Tujuannya apa, supaya harganya murah. Bulan Desember besok basic engineering design sudah jadi, lalu detail desain dan habis itu konstruksi.

img_title RI Bakal Punya PLTN Kapasitas 250 MW di Tahun 2032

Untuk konstruksi, yang jelas tapak atau lokasi sudah dapat izin. Sekarang baru proses Amdal, kemudian tahapannya nanti tapak sudah, kalau mau bangun harus ada izin Bapeten.

Kita perkirakan kalau detail desain sudah jadi tahun 2018 akhir. Ya, paling lambat tahun 2024 sudah jadi semua. Ini tantangan tersendiri, karena bikin yang kecil pun melebihi dari yang kita perkirakan. Sekitar lima tahun.

Saat ini, seperti di Serpong, baru di-review oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) desain kita. Benar atau tidak, karena kita butuh pihak lain untuk menvalidasi desain tersebut.

Ke depan, kita juga akan minta tolong ke negara tertentu, misalnya Rusia, Jepang atau China, untuk menvalidasi desain kita ini.

Seberapa mendesak Indonesia membutuhkan nuklir?

Kita ini punya hubungan erat dengan banyak negara, termasuk IAEA sendiri. Pemerintah memiliki kebijakan energi nasional yang menargetkan 23 persen dari total Energi Baru Terbarukan (EBT) pada tahun 2025.

Itu target yang ambisius. EBT itu ada matahari, angin, hydro, dan geothermal. Itu padahal masih di bawah 10 persen. Mungkin sekitar 7-8 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Artinya, berarti masih ada sisa banyak kan. Paling banyak, ya, 15 persen. Nah, banyak yang mengatakan bahwa hanya dengan nuklir, mungkin, bisa membantu mengisi kekurangan ini.

Ya, paling tidak mendekati target 23 persen itu. Di Indonesia, nuklir didefinisikan sebagai salah satu energi baru. Jadi, saya kembalikan lagi kepada target-target yang sudah dicanangkan pemerintah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut